Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Saat Krisis iklim Memburuk, Membangun Kampung itu justeru Solusi Jitu dan Permanen

Catatan Lapangan
Abdurahman Sandriyani
Cover Image for Saat Krisis iklim Memburuk, Membangun Kampung itu justeru Solusi Jitu dan Permanen

“Krisis iklim artinya; saat kenaikan suhu bumi mencapai ambang batasnya, dan eskalasi bencana iklim tak terhindarkan, saat itulah sistem yang tersedia justeru telah gagal melindunginya…”

Apa yang berubah dari iklim tak pernah jadi cerita sederhana. Apakah ia buruk atau sebaliknya, dan relevankah dengan kehidupan banyak orang, khususnya di lingkaran terdekat hidup kita sendiri, ini jadi pertanyaan.

***

Perubahan pola cuaca dalam kurun waktu tertentu yang disebabkan siklus alami maupun aktivitas manusia. Ini definisi umum yang diterima di banyak tempat, ada kata kunci ‘pola’, juga periode waktu. Seturut pemahaman ilmiah yang berkembang, periode waktu ini dikunci di dalam kategori kalkulasi urut-waktu 30 tahun bahkan lebih ke belakang. Praktis, melalui acuan ini, generasi yang lahir di atas 1998, agak sulit meletakkan perbandingan ‘apa persis bedanya’ situasi cuaca hari ini dengan sepuluh tahun ke belakang. Mungkin ada tetapi tak banyak, dan istimewanya mereka menerima justeru dari perkembangan produk informasi.

Generasi 1998-an ke belakang, termasuk saya, akan punya sejumlah informasi langsung: dulu, kita terbiasa melihat belalang dengan beragam jenis beterbangan di halaman rumah dan sekolah, dulu kita juga terbiasa menangkap (tanpa susah payah mencari), kupu-kupu, capung maupun hewan sejenis ini di lingkungan terdekat kita. Saat ini, bahkan melihat-pun sepertinya jadi kenyataan yang mustahil!

Ini baru soal hewan, soal cuaca: dulu di era 1990-2000an, cuaca hujan berjalan sesuai dengan perhitungan angin secara persisten: 6 bulan untuk musim hujan, 6 bulan berikutnya musim panas. Ada angin muson timur, ada pula ada angin muson timur. 10-20 tahun ke belakang, Ini sepertinya berjalan secara normal, tapi kalau sekarang: dalam satu-tiga bulan bisa terjadi pergantian musim, tetapi pada saat yang sama waktunya bisa sangat panjang, baik musim panas maupun penghujan.

Saat ini, bermacam-macam kondisi spesifik dalam soal iklim beragam sekali: sejak siklon seroja hingga yang terbaru siklon tropis senyar yang menghantam Aceh dan Sumatera.

Apa yang relevan dari perubahan kondisi ini?

Tak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Ini kata-kata Filsuf Yunani, saya tak ingat persis namanya. Kata Pak Wakhit namanya Demokritos

Bagaimana saat apa yang masuk sebagai ‘perubahan cuaca’ jadi sesuatu yang anomali, ini punya dampak yang ternyata jadi impian buruk seluruh umat manusia? Kekacauan hingga kehidupan normal yang terhenti. Pasokan pangan utama berkurang, kelangkaan air, udara bersih yang nihil. Di banyak publikasi dan penelitian yang dilakukan di banyak tempat di dunia, dampak-dampak yang masuk di dalam kondisi perubahan cuaca ini disebut kerusakan dan kehilangan (loss and damage).

Orang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, hingga kematian. Bahkan Bappenas RI mengkalkulasi dalam 4 tahun ke belakang ‘bencana iklim’ menelan kerugian fiskal di dalam negeri mencapai 544 triliun, setara 2 periode nilai anggaran MBG yang ngawur itu. Untuk lebih mengenal dekat, tanyakan saja ke petani dan nelayan yang Anda kenal, bagaimana hasil panen terdekat dalam kurun waktu 1-5 tahun ke belakang. Kalau baik-baik saja, saya pastikan tidak mungkin ada MBG. Apa hubungannya? Ya tanyalah Prabowo kalau soal proyek ini.

Sayangnya, diskursus (percakapan mendalam yang akademis gitu) seputar perubahan cuaca (what so called ‘climate change/climate crisis) ini tak serenyah soal percakapan lapangan pekerjaan. Dan dugaan saya, memang didesain oleh pendidikan kita: menjauhkan dari kenyataan-kenyataan hidup kita sendiri.

Balik lagi ke soal: masalahnya, dampak-dampak perubahan cuaca ini tidak langsung terjadi dan punya bentuk kasat di depan mata. Seperti bencana (alam) pada umumnya, yang langsung pada saat kejadian bisa disaksikan, begitu juga dampaknya. Perubahan pola cuaca (iklim) berkepanjangan punya dampak signifikan, tetapi perlahan dan itu secara ilmiah terjadi secara jangka panjang (slow onset). Padahal, bencana karena iklim (hidrometeorologi) punya daya rusak yang sama beratnya dengan bencana alam pada umumnya. Karena karakteristik ini, saya perhatikan cara-cara pemimpin di dunia merespon kondisi ini juga slow-slow aja. Negara-negara yang mestinya punya tanggung jawab lebih membantu negara lain itu jumlahnya minim. Apalagi pemerintah kita yang denialnya luar biasa. Dia hanya mau bergerak, kalau ada pressure, kalau baru viral.

Apabila pada mulanya perubahan pola cuaca itu disebabkan siklus alami, ruang lingkup ini berkembang karena faktor aktivitas manusia (antroposen).

Saya sempat bertanya, aktivitas manusia yang mana nih? Kalau penyebabnya semua manusia tanpa perbedaan kontribusi yang tegas, ya saya sungguh marah. Saya membayangkan orang-orang seperti Bi Rat (Petani Lansia Penggarap Lahan Tidur di Balong Setupatok) masak iya penyebabnya, kan nggak juga. Nah di sinilah peran organisasi pakar internasional seperti IPCC dan organisasi politik iklim negara-negara dunia seperti UNFCCC. Mereka bilang, hanya segelintir aktivitas manusia yang secara menyejarah telah mengendalikan, menguasai dan mendapatkan untung berlipat tanpa seri berikut kekayaan secara tanpa batas dari industri ekstraktif: ini meliputi negara dan korporasi besar di pengusahaan tambang, minyak, dan gas.

Jadi jelas ya, sampai di sini: aktivitas kelompok-kelompok inilah yang terbukti (secara saintifik dan keputusan resmi organisasi iklim di dunia) menjadi penyebab meningkatnya perubahan cuaca yang semakin tak menentu, yang dampak dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Lalu kalau sudah tau, selanjutnya bagaimana?

**

Saya perhatikan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sekalipun di level konferensi tinggi dunia soal iklim (Conference of Parties/CoP) hasilnya itu-itu aja, nggak banyak yang bisa diharapkan, minimal dieksekusi jadi perubahan struktural di sejumlah negara. Lihat saja, lha wong pemain utamanya, dalam hal ini Amerika itu, keluar lapangan kok (alias keluar dari keanggotaan UNFCCC), sementara sampai hari ini dia jelas-jelas harus bertanggungjawab untuk membantu (debt ecology) negara-negara berkembang dalam banyak hal soal iklim (mitigasi, adaptasi, hingga pendanaan). Hingga menuju ambang batas selesainya Perjanjian Paris di 2030, data-data terbaru justeru konsisten menyebutkan suhu bumi kita di atas rata-rata. Artinya, besar kemungkinan gagal.

Solusi-solusi untuk ‘transformasi kehidupan’ seperti yang diklaim dokumen UNFCCC ini saya sendiri kok makin gelisah, dan lebih banyak apatisnya. Akhirnya, saya beranggapan dengan demikian, solusi terbaik ya akhirnya yang bisa kita buat dan tentukan sendiri. Bekerja semaksimal mungkin, dengan seperangkat pengetahuan dan tindakan tanpa lelah, untuk berupaya membantu diri sendiri dan orang-orang dalam hal kecukupan informasi, pangan, air dan energi. Di kampung halaman saya, di Cirebon – saya menyaksikan betul gerakan-gerakan warga yang diorganisir Jaringan Belajar Wangsakerta itu semacam jadi solusi lokal untuk global –seperti inisiatif belajar ngeger, Kadarkim, pengorganisasian kampung-kampung dalam pengelolaan sumberdaya.

Ya demikianlah, keputusan politik selalu paralel berpengaruh atas kehidupan sehari-sehari kita. Sialnya, apa yang jadi keseharian kita tidak selalu tertuju dan terhubung ke arah sana. Bagaimana kalau ternyata apa yang menjadi keseharian kita ini sesungguhnya punya kontribusi besar atas peradaban? Bisa jadi tidak sekarang, tahun depan, tiga puluhan ke depan, tetapi mungkin dua sampai generasi berikutnya yang (hasilnya) akan memanen. Dan disitulah politik peradaban bekerja..

Dan saya melihat dan mengamini itu justru telah, sedang, dan akan terus diupayakan oleh Wangsakerta sebagai jaringan belajar bersama membangun perubahan struktural dari tindakan sehari-hari.

Kalibata City-Jakarta Selatan, 6 Mei 2026


Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru