Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Perlawanan Tanpa Disiplin Itu Nonsense

Catatan Lapangan
Wangsakerta
Cover Image for Perlawanan Tanpa Disiplin Itu Nonsense

Ada banyak orang yang marah pada ketidakadilan. Ada banyak yang berteriak tentang perubahan. Ada yang berani turun ke jalan, membuat unggahan panjang di media sosial, atau berdebat sengit di ruang-ruang diskusi. Namun, sejarah menunjukkan satu hal yang tidak bisa ditawar: semangat tanpa disiplin hanya akan menjadi ledakan sesaat. Perlawanan tanpa disiplin adalah nonsense—ia terdengar keras, tetapi tak memiliki daya tahan.

Perlawanan selalu lahir dari kegelisahan. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres: ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, krisis pangan, atau hilangnya ruang hidup masyarakat kecil. Dalam konteks desa dan komunitas, kita sering menyaksikan keresahan yang nyata—harga hasil tani yang tidak stabil, generasi muda yang meninggalkan sawah, atau sumber daya air yang semakin tertekan. Kegelisahan itu penting. Ia adalah api awal. Tetapi api yang tidak diarahkan hanya akan membakar tanpa membangun.

Disiplin adalah jembatan antara amarah dan perubahan. Ia membuat energi perlawanan menjadi terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Disiplin bukan sekadar soal tepat waktu atau patuh pada aturan; ia adalah kemampuan mengendalikan diri, menjaga konsistensi, dan menempatkan tujuan kolektif di atas ego pribadi. Tanpa disiplin, gerakan sosial mudah pecah oleh konflik internal, terseret provokasi, atau habis oleh kelelahan.

Sejarah perjuangan memberi banyak pelajaran. Mahatma Gandhi tidak hanya menyerukan perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi membangun disiplin moral melalui prinsip ahimsa—non-kekerasan yang konsisten dan terorganisir. Bagi Gandhi, perlawanan bukan sekadar aksi, tetapi laku hidup sehari-hari. Sementara itu, Nelson Mandela menunjukkan bagaimana ketahanan dan kedisiplinan politik mampu melewati puluhan tahun penjara tanpa kehilangan arah perjuangan. Bahkan dalam konteks Indonesia, Tan Malaka menekankan pentingnya organisasi dan pendidikan politik agar perlawanan rakyat tidak berhenti sebagai luapan emosi.

Disiplin membuat gerakan tidak reaktif, tetapi reflektif. Ia memaksa kita untuk bertanya: apa tujuan jangka panjang kita? Siapa yang paling terdampak? Strategi apa yang realistis? Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, perlawanan mudah berubah menjadi ajang simbolik—ramai sesaat, lalu hilang tanpa jejak. Kita sering menyaksikan gerakan yang viral selama beberapa hari, tetapi tidak memiliki struktur tindak lanjut. Energi terkuras untuk momentum, bukan untuk transformasi.

Dalam kerja-kerja sosial di desa, disiplin memiliki bentuk yang sangat konkret. Ia hadir dalam rapat rutin yang mungkin terasa membosankan, dalam pencatatan keuangan yang transparan, dalam kesepakatan kolektif yang dipatuhi bersama. Ia juga hadir dalam kesediaan untuk belajar—membaca data, memahami kebijakan, menguasai teknik budidaya, atau mempelajari manajemen organisasi. Tanpa disiplin administratif dan intelektual, gagasan besar akan runtuh oleh detail kecil yang diabaikan.

Perlawanan tanpa disiplin juga sering terjebak dalam romantisme. Kita membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang heroik dan dramatis. Padahal, perubahan lebih sering lahir dari kerja sunyi yang berulang. Menanam pohon setiap musim. Mengedukasi warga dari rumah ke rumah. Mengumpulkan data dengan sabar. Membangun jejaring sedikit demi sedikit. Disiplin membuat kita mampu menghargai proses yang lambat, bukan hanya hasil yang spektakuler.

Lebih jauh, disiplin adalah bentuk tanggung jawab moral. Jika kita mengajak orang lain untuk percaya pada sebuah perjuangan, kita berkewajiban menjaga konsistensinya. Tanpa disiplin, kita berisiko mengecewakan mereka yang sudah berharap. Kita bisa saja berteriak tentang keadilan pangan, tetapi jika tidak disiplin dalam mengelola lahan, mengatur distribusi, atau menjaga kualitas produksi, maka pesan kita kehilangan kredibilitas.

Namun, disiplin bukan berarti kaku atau menutup ruang kreativitas. Justru sebaliknya, disiplin memberi kerangka agar kreativitas tidak liar. Ia seperti fondasi dalam bangunan: tidak selalu terlihat, tetapi menentukan kekuatan struktur. Dalam gerakan anak muda, disiplin bisa berarti pembagian peran yang jelas, target waktu yang realistis, serta evaluasi berkala. Ia mencegah kelelahan kolektif karena setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dan untuk apa ia melakukannya.

Di era digital, tantangan disiplin semakin besar. Informasi bergerak cepat, perhatian mudah terpecah, dan opini berubah dalam hitungan jam. Perlawanan bisa tergoda untuk mengikuti arus trending daripada memegang agenda jangka panjang. Di sinilah disiplin menjadi sikap melawan yang paling sunyi: memilih fokus ketika yang lain sibuk berpindah isu; tetap konsisten ketika sorotan publik sudah redup.

Pada akhirnya, perlawanan sejati bukan tentang seberapa keras kita bersuara, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan. Ia bukan tentang seberapa banyak orang yang hadir dalam satu aksi, tetapi seberapa konsisten kita membangun perubahan setelah aksi itu selesai. Disiplin membuat perlawanan memiliki ingatan, arah, dan kesinambungan.

Perlawanan tanpa disiplin memang terdengar berani, tetapi ia rapuh. Ia seperti ombak besar yang memecah di pantai—menggelegar, lalu lenyap. Disiplinlah yang mengubah ombak menjadi arus yang perlahan mengubah bentuk batu karang. Ia mungkin tidak dramatis, tetapi ia pasti.

Maka, jika kita sungguh ingin perubahan—di desa, di kota, dalam isu pangan, lingkungan, atau keadilan sosial—kita perlu merawat disiplin sebagai laku harian. Bukan hanya disiplin terhadap jadwal dan aturan, tetapi disiplin terhadap nilai. Konsisten pada tujuan. Taat pada kesepakatan kolektif. Setia pada proses panjang.

Karena pada akhirnya, perlawanan bukan sekadar sikap menolak. Ia adalah komitmen membangun. Dan komitmen hanya akan hidup dalam disiplin. Tanpanya, perlawanan hanyalah gema kosong—keras di telinga, tetapi tak mengubah apa pun.[]


Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru