Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Pendidikan yang Tercerabut dari Kehidupan Membaca Sekolah Itu Candu dari Karang Dawa

Ulasan Buku
Busthomi Afif
Cover Image for Pendidikan yang Tercerabut dari Kehidupan Membaca Sekolah Itu Candu dari Karang Dawa

Segalanya tercerabut. Batang pinang terpisah dari kulit pelepah sagu. Anyaman daun sagu tak lagi menjadi atap rapuh yang setiap empat bulan harus diganti. Halaman rumah dan kebun yang dahulu ditumbuhi singkong, jagung, kacang tanah, mangga, dan pepaya berganti menjadi tanaman hias. Pakaian diseragamkan. Pikiran pun diseragamkan.

Bersamaan dengan bangunan-bangunan yang dirobohkan, masyarakat perlahan tercerabut dari realitas hidupnya sendiri. Mereka tak lagi mencabut rumput, memperbaiki pagar, melabur dinding, menanam tanaman baru, memetik hasil kebun, mengumpulkan kayu pagar, merajut atap dan dinding rumah, atau meruncingkan kayu pagar. Seluruh keterampilan yang dahulu tumbuh dari kehidupan sehari-hari berganti dengan aktivitas menghafal kata-kata dan istilah-istilah asing yang sering kali tidak memiliki hubungan langsung dengan realitas yang mereka hadapi.

Gambaran tersebut dihadirkan Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 1998 ini telah mengalami belasan kali cetak ulang dan tetap relevan hingga hari ini. Pada bagian "Robohnya Sekolah Rakyat Kami", Roem menggambarkan bagaimana sekolah pada masa lalu begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Roem memang tidak menjelaskan secara rinci proses belajar-mengajar di sekolah rakyat, tetapi ia memperlihatkan bagaimana pendidikan berlangsung dalam kehidupan nyata. Salah satu contohnya adalah ketika sekolah diliburkan selama musim panen agar murid-murid membantu masyarakat di sawah dan ladang.

"Tiap enam bulan adalah musim panen raya: panen jagung huma atau padi sawah. Ini berarti libur sepekan penuh. Sekolah memang tak punya lahan ladang atau sawah sendiri, tetapi sekolah bertugas mengerahkan dan mengatur murid-muridnya untuk disebar ke ladang dan sawah penduduk." (Sekolah Itu Candu, hlm. 65)

Tidak hanya itu, setiap Sabtu atau setelah ulangan umum, para murid turut memperbaiki pagar sekolah, merajut atap, memperbaiki bangunan, menanam berbagai tanaman, hingga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berguna bagi kehidupan mereka. Tanpa disadari, sekolah menjadi tempat belajar keterampilan hidup. Pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi kemampuan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan hari ini?

Sekolah masa kini memang masih mengajarkan tentang alam melalui berbagai mata pelajaran ataupun kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Palang Merah Remaja, maupun kegiatan lainnya. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah pengetahuan tersebut cukup membuat peserta didik mampu bertahan hidup di lingkungannya sendiri? Apakah sekolah berhasil melahirkan generasi yang mampu menyelesaikan persoalan di masyarakatnya?

Pengalaman Belajar di Sekolah Alam Wangsakerta

Selama tiga bulan mendampingi proses belajar di Sekolah Alam Wangsakerta, saya berhadapan langsung dengan kenyataan yang sangat berbeda dari apa yang selama ini diajarkan di ruang-ruang kelas. Saya melihat kondisi pertanian yang carut-marut, produktivitas yang rendah, batas-batas lahan yang tidak tertata, sistem pengairan yang bermasalah, hingga penggunaan teknologi pertanian yang jauh dari memadai.

Di Dusun Karang Dawa, Desa Setupatok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, para petani yang sebagian besar telah berusia lebih dari lima puluh tahun tetap bertahan menggarap lahan di tepian Waduk Setu Patok, meskipun persoalan yang mereka hadapi sangat kompleks.

Yang membuat mereka bertahan bukanlah keuntungan ekonomi. Jika dihitung secara sederhana, biaya, tenaga, dan waktu yang mereka keluarkan sering kali jauh lebih besar dibandingkan hasil yang mereka peroleh. Pupuk semakin mahal, pestisida terus dibeli, sementara hasil panen tidak pernah benar-benar menjanjikan.

Suatu hari ketika saya mencari rumput untuk pakan kambing, saya bertemu seorang petani yang baru saja membeli pupuk seharga Rp400.000. Ketika saya bertanya berapa hasil panennya, ia menjawab bahwa satu ton padi pun tidak berhasil diperoleh. Belum lagi biaya pestisida, benih, dan ongkos produksi lainnya yang terus meningkat setiap musim tanam.

Lalu mengapa mereka tetap bertahan?

Jawaban mereka sederhana: menghabiskan sisa umur sambil memanfaatkan tanah yang masih disediakan alam. Teman-teman santri menyebutnya sebagai ihyā' al-mawāt—menghidupkan tanah yang mati. Sebuah praktik yang justru lebih nyata dibandingkan mereka yang hanya mempelajari konsep tersebut di ruang-ruang pendidikan tanpa pernah mengamalkannya.

Ironisnya, selama puluhan tahun para petani Karang Dawa hampir tidak pernah memperoleh perhatian yang memadai dari pemerintah. Ketika salah seorang Ketua RT berinisiatif membentuk kelompok tani, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) menyatakan tidak dapat memfasilitasinya karena lahan yang mereka garap merupakan lahan pemerintah.

Solusi yang diberikan pun terasa tidak menjawab persoalan. Mereka disarankan bergabung dengan kelompok tani dari wilayah lain atau membentuk Taruna Tani. Padahal sebagian besar petani Karang Dawa telah berusia lebih dari lima puluh tahun, sementara Taruna Tani diperuntukkan bagi petani muda. Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin petani lanjut usia diminta bergabung dalam organisasi yang memang dirancang untuk generasi muda?

Yang lebih mengkhawatirkan, hingga hari ini hampir tidak ada generasi muda Karang Dawa yang berminat meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai petani.

Mengapa?

Salah satu penyebab paling mendasar adalah pendidikan. Baik pendidikan dalam keluarga maupun pendidikan formal belum berhasil menumbuhkan kesadaran bahwa pertanian merupakan bagian penting dari kehidupan. Anak-anak belajar tentang fotosintesis, ekosistem, dan ketahanan pangan, tetapi sedikit sekali yang diajak memahami tanah tempat mereka berpijak, mengenali sumber air di kampungnya, atau mencari solusi atas persoalan pertanian yang dihadapi keluarganya sendiri.

Pendidikan yang seharusnya membantu menyelesaikan persoalan nyata justru sering kali menjauh dari kehidupan masyarakat.

Di mana peran para santri yang mempelajari konsep ihyā' al-mawāt? Di mana peran para penyuluh pertanian? Pengetahuan apa yang sebenarnya dipelajari oleh para pengambil kebijakan, jika mereka tidak mampu membaca kenyataan di lapangan? Mengapa generasi muda semakin asing terhadap dunia pertanian yang selama ini menghidupi keluarganya?

Mereka menjadi disinherited masses—masyarakat yang tercerabut dari akar kehidupannya sendiri, terasing dari tanah, lingkungan, dan realitas sosialnya.

Roem Topatimasang menuliskan kritik yang hingga hari ini masih terasa relevan.

"Sekolah memang sudah bukan lagi miliknya el pobre siado, kaum yang terlunta-lunta, rakyat jelata! ... Sekolah kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan raksasa yang—atas nama pembangunan, industrialisasi, modernisasi, dan globalisasi—bukan hanya mengajarkan bagaimana merampas sumber daya komunal, tetapi juga menjarah pikiran, perasaan, kesadaran, martabat, dan harga diri masyarakat kampung." (Sekolah Itu Candu, hlm. 69)

Pertanyaan Roem lebih dari dua puluh tahun lalu tampaknya masih layak diajukan hingga hari ini. Ketika sekolah semakin sibuk menyiapkan tenaga kerja, tetapi gagal menyiapkan manusia yang mampu merawat tanah, air, pangan, dan komunitasnya sendiri, maka yang hilang bukan sekadar keterampilan. Yang hilang adalah hubungan manusia dengan tempat hidupnya.

Barangkali inilah yang dimaksud Roem ketika mengatakan bahwa sekolah telah membuat manusia tercerabut dari akarnya. Pendidikan tidak lagi menjadi jalan untuk memahami kehidupan, melainkan sekadar sarana memperoleh ijazah. Padahal, pendidikan seharusnya mengembalikan manusia kepada realitasnya, membekali mereka untuk memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menumbuhkan tanggung jawab untuk merawat alam dan kehidupan bersama.[]

Saung Wangsakerta, 1 Januari 2021


Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru