Pasar Balset dan Teologi Lingkungan: Memilah Sampah sebagai Jalan Mendapatkan “Terima Kasih” dari Tuhan
Setelah dua bulan vakum akibat cuaca buruk, kegiatan Pasar Balset akhirnya kembali digelar bulan ini. Pagi tadi, kecemasan sempat menyelimuti kami karena cuaca belum sepenuhnya stabil; gerimis sudah turun sejak pukul 05.00 WIB. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, mengingat beberapa titik lokasi pasar rawan tergenang air jika hujan deras mengguyur. Beruntung, gerimis mereda sekitar pukul 06.00 WIB, dan beberapa lokasi tetap kering sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
Pasar Balset edisi kali ini terasa lebih istimewa. Selain menyajikan aneka pangan lokal, sembako urah, dan pameran komik, acara ini juga dirangkai dengan momentum halal bihalal serta tausiyah lingkungan dari Bu Nyai Hj. Fadillah Munawaroh. Mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu yang tampak khidmat menyimak pesan-pesan beliau sembari menikmati kudapan tradisional yang
tersedia.
Dalam tausiyahnya, Bu Nyai menyoroti fenomena sosial yang relevan, yaitu “jarkoni” (bisa berujar, tetapi tidak bisa melakoni). Fenomena ini sering kita jumpai dalam bentuk janji-janji kosong, seperti ajakan “kapan-kapan ngopi” yang tak pernah berujung pada kepastian waktu dan tempat, atau ucapan “on the way” yang nyatanya masih diucapkan dari atas tempat tidur. Bu Nyai menekankan bahwa perilaku jarkoni ini juga merambah pada cara kita memperlakukan lingkungan.
Beliau menegaskan bahwa mencintai Kanjeng Nabi berarti mencintai apa yang beliau cintai, termasuk bumi yang kita pijak. Memilah sampah dan tidak membuangnya sembarangan bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan manifestasi nyata dari keimanan. Dalam konteks ini, keberagamaan tidak boleh hanya berhenti pada ritual vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan), tetapi juga harus menyentuh dimensi horizontal (hubungan manusia dengan semesta).
Poin yang paling menggugah adalah ketika Bu Nyai mengutip sebuah hadis qudsi dari Kitab Abi Jamroh. Disebutkan bahwa Allah mengucapkan “terima kasih” kepada hamba-Nya yang meletakkan sampah pada tempatnya. Ini merupakan bentuk apresiasi luar biasa dari Sang Khalik terhadap sebuah tindakan yang sering dianggap sepele. Dalam konteks tertentu, apresiasi ini bahkan terasa sangat personal dibandingkan ibadah formal lainnya. Mengetahui bahwa memilah sampah di dapur bernilai setara dengan “zikir” memberikan energi baru: bahwa menjadi saleh tidak harus selalu berada di dalam masjid. Merawat lingkungan mungkin melelahkan, namun di sanalah letak kemuliaan manusia.
Tausiyah ditutup dengan pengingat untuk senantiasa berselawat dan memuliakan sesama makhluk. Mengutip pesan Kyai Mahrus Ali Lirboyo, keberkahan hidup dapat diraih dengan istiqamah melantunkan: “Maulaya sholli wasallim daiman abadan, ‘ala habibika khairil khalqi kullihimi.” Keyakinannya sederhana namun mendalam: jika kita mampu memuliakan makhluk di bumi, maka penduduk langit pun akan memuliakan kita.
Kegiatan hari ini menyisakan pertanyaan kritis dalam benak saya: jika Tuhan memberikan apresiasi “terima kasih” yang begitu khusus kepada mereka yang menjaga kebersihan—sementara tidak pada perkara yang sudah menjadi kewajiban rutin—apakah ini berarti menjaga ekologi memiliki derajat yang lebih
tinggi atau lebih mendesak daripada ibadah mahdlah (formal) di tengah situasi krisis iklim saat ini? Jangan-jangan, jalan tercepat menuju cinta Tuhan bukan terletak pada panjangnya bacaan doa, melainkan pada seberapa lembut kita memperlakukan bumi yang telah Dia hamparkan.[]