Nadran di Kampung Citemu: Ketika Pesta Laut Bertemu Sedekah Laut, Apa Maknanya Kini?
Di Desa Citemu, Nadran bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah peristiwa sosial yang mempertemukan warga lintas usia, lintas peran, dan lintas generasi. Bagi sebagian warga, Nadran adalah pesta laut—ruang hiburan, perayaan, dan kebersamaan. Bagi yang lain,Nadran adalah sedekah laut—ungkapan syukur, doa, dan pengingat hubungan manusia dengan alam. Di tengah kemeriahan itu, muncul pertanyaan penting yang patut direnungkan bersama: apa makna Nadran hari ini, dan nilai apa yang ingin kita wariskan ke generasi berikutnya?
Pada malam Sabtu, 27 Juni 2024, dentuman sound system menggema di sudut-sudut kampung. Perangkat suara besar berdiri di hampir setiap gang, menjadi penanda bahwa Nadran segera mencapai puncaknya. Suasana ini paling dinanti oleh anak-anak muda desa. Kampung menjadi ruang perjumpaan, ekspresi, dan perayaan bersama.
Pesisir, Laut, dan Identitas Kampung
Desa Citemu merupakan salah satu dari 12 desa di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, dengan luas wilayah 116,76 hektare. Berdasarkan Profil Desa Citemu 2023, desa ini dihuni oleh 4.208 jiwa yang tersebar di dua dusun, tiga RW, dan sembilan RT. Secara geografis, Citemu berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara.
Sekitar 90 persen masyarakat Citemu bekerja sebagai nelayan, sementara sebagian kecil di wilayah selatan dan timur Blok Cantilan berprofesi sebagai petani. Komposisi ini menjadikan laut sebagai tulang punggung ekonomi sekaligus ruang budaya dan spiritual. Karena itu, pembangunan desa pun banyak diarahkan untuk menopang sektor kelautan.
Dalam konteks inilah Nadran tumbuh dan diwariskan. Tradisi ini diyakini berasal dari kata nadzaran (Arab), yang dimaknai sebagai pemenuhan janji atau ungkapan syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan atas rezeki laut yang mereka terima sepanjang tahun.
Nadran sebagai Ruang Ritual dan Ruang Sosial
Nadran di Desa Citemu digelar setahun sekali, setiap bulan Shafar dalam penanggalan Qomariyah. Secara ritual, Nadran melibatkan pagelaran wayang, pembuatan pecunan (miniatur perahu), sesajen hasil bumi, kepala kambing — kini sering diganti kepala kerbau — serta tahlilan bersama.
Persiapan Nadran menjadi kerja kolektif warga. Pecunan dibuat bersama, sesajen dikumpulkan, dan prosesi dirancang secara gotong royong. Di sinilah peran anak muda mulai terlihat jelas. Jauh hari sebelum pelarungan, pemuda desa membuat ogoh-ogoh dengan kreativitas dan sumber daya yang mereka miliki. Setelah Nadran usai, ogoh-ogoh tersebut bahkan dapat dijual atau disewakan ke desa lain, membuka peluang ekonomi kreatif berbasis tradisi.
Bagi generasi muda, Nadran adalah ruang berekspresi sekaligus ruang belajar tentang kampungnya sendiri. Dari arak-arakan, musik, hingga keterlibatan dalam persiapan, anak muda menjadi bagian penting dari keberlangsungan tradisi ini.
Prosesi dan Pesan Ekologis
Dok: Studiofru I Green Project
Pada hari pelaksanaan, wayang digelar di dekat laut. Warga menyiapkan ember berisi air dan kembang tujuh rupa yang diletakkan di sekitar panggung. Pecunan dan ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa dengan iringan musik, tari-tarian, dan antusiasme warga, sebelum akhirnya berakhir di lokasi pagelaran.
Usai tahlilan bersama, pecunan dinaikkan ke perahu nelayan. Warga membawa air kembang ke perahu masing-masing dan bersama-sama menuju laut. Di tengah laut, pecunan dan sesajen dilarung. Air kembang dipercikkan ke perahu sebagai simbol doa, harapan keselamatan, dan keberkahan rezeki.
Pada titik ini, laut tidak diperlakukan semata sebagai ruang eksploitasi ekonomi, tetapi sebagai entitas
yang dihormati. Nilai Nadran sejatinya memuat pesan ekologis yang kuat: mengambil dari laut harus disertai rasa syukur, pembatasan diri, dan tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
Pesta, Hiburan, dan Pergeseran Makna
Dok: Studiofru I Green Project
Seiring waktu, praktik Nadran mengalami perubahan. Unsur ritual seperti wayang, pecunan, kembang, dan
tahlilan masih dipertahankan. Namun, bentuk hiburan mengalami pergeseran signifikan. Dahulu, arak-arakan diiringi rebana dan satu burok. Kini, sound horeg dengan volume tinggi menjadi pusat perhatian, melibatkan warga dari berbagai usia dalam suasana pesta yang meriah.
Menurut para sesepuh desa, wayang sejak dahulu dipahami sebagai doa yang disampaikan melalui kidung Jawa, air, dan kembang. Sesajen dan kepala kambing merupakan syarat penting dalam pelaksanaan Nadran. Namun kini, sebagian unsur tersebut mulai dimaknai lebih fleksibel.
Perubahan ini memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap Nadran. Bagi sebagian warga, Nadran hari ini lebih terasa sebagai pesta laut ketimbang sedekah laut. Bahkan ada yang menilai Nadran tidak lagi berdampak langsung pada hasil tangkapan atau perekonomian nelayan.
Sebaliknya, bagi nelayan yang masih memaknai Nadran sebagai sedekah laut, tradisi ini menumbuhkan sikap syukur dan kehati-hatian dalam memanfaatkan laut. Nilai tersebut berpengaruh pada kepedulian mereka dalam menjaga lingkungan pesisir.
Refleksi Bersama: Anak Muda, Desa, dan Masa Depan Nadran
Perubahan wajah Nadran mencerminkan perubahan cara masyarakat Citemu memaknai laut, tradisi, dan
kebersamaan. Bagi anak muda, Nadran kerap hadir sebagai ruang hiburan dan ekspresi. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan nilai gotong royong, rasa syukur, dan etika menjaga alam yang perlu terus disadari dan diwariskan.
Di sinilah anak muda menjadi modal sosial penting. Dengan kreativitas dan energinya, mereka dapat berperan bukan hanya sebagai penggerak pesta, tetapi juga penjaga ingatan kampung—melalui dokumentasi tradisi, diskusi kampung, dan aksi lingkungan sederhana yang terkait langsung dengan Nadran.
Bagi pemerintah desa, Nadran bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan ruang strategis untuk merawat nilai bersama. Melalui dukungan kebijakan yang ringan namun konsisten, seperti pengaturan pelaksanaan Nadran yang disertai edukasi lingkungan. Tradisi ini dapat tetap hidup sebagai pesta, sekaligus bermakna sebagai sedekah laut yang relevan bagi masa depan desa. Misalnya, pemerintah desa bersama pemuda dapat menginisiasi forum refleksi pasca-Nadran yang membahas makna tradisi, dampaknya terhadap lingkungan, serta harapan warga terhadap laut dan masa depan kampung. Kegiatan ini tidak harus formal, tetapi bisa dikemas dalam diskusi santai, nonton bareng dokumentasi Nadran, atau rembuk kampung sederhana.
Selain itu, Nadran dapat dikembangkan sebagai ruang pembelajaran melalui kegiatan dokumentasi oleh anak muda—baik dalam bentuk tulisan, foto, maupun video—yang merekam proses ritual, cerita para sesepuh, dan perubahan yang terjadi. Dokumentasi ini bukan hanya arsip budaya, tetapi juga sarana anak muda memahami kampungnya sendiri.
Langkah lain yang memungkinkan adalah mengaitkan Nadran dengan aksi lingkungan konkret, seperti bersih pantai sebelum atau sesudah ritual, penanaman mangrove, atau kampanye pengurangan sampah laut. Dengan cara ini, nilai sedekah laut tidak berhenti pada simbol pelarungan, tetapi iterjemahkan menjadi tindakan merawat laut secara nyata.
Perbedaan cara pandang ini menunjukkan bahwa Nadran bukan sekadar ritual, melainkan ruang refleksi sosial. Anak muda Citemu sesungguhnya memiliki posisi strategis sebagai modal sosial Nadran. Selama ini mereka hadir kuat dalam aspek hiburan dan kreativitas. Dengan pendampingan yang tepat, anak muda juga dapat berperan sebagai penjaga nilai, penggerak literasi lingkungan, dan jembatan antara tradisi dan tantangan zaman.
Bagi pemerintah desa, Nadran dapat dilihat bukan hanya sebagai agenda budaya tahunan, tetapi sebagai instrumen sosial untuk membangun kesadaran kolektif tentang lingkungan pesisir. Peraturan Desa (Perdes) terkait pelaksanaan Nadran, disertai edukasi dan pelatihan berbasis lingkungan, dapat menjadi langkah strategis agar nilai sedekah laut tetap hidup di tengah perubahan.
Lebih dari sekadar pesta, Nadran adalah cermin cara masyarakat Citemu memandang laut dan kampungnya. Ia merekam hubungan manusia dengan alam, cara bersyukur atas rezeki, serta cara sebuah komunitas menjaga identitasnya di tengah perubahan zaman. Pertanyaan yang patut direnungkan bersama adalah: apakah Nadran akan berhenti sebagai perayaan, atau justru menjadi kekuatan bersama untuk merawat laut dan masa depan desa? []
*) Artikel ini disarikan dari skripsi penulis berjudul Persepsi Masyarakat Pesisir Terhadap Nilai Tradisi Nadran di Desa Citemu, Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (2025). Penulis merupakan peserta MBKM di Desa Citemu melalui kolaborasi Yayasan Wangsakerta dan UIN SSC.