Nabi, Desa, Pangan, dan Kasab
1. Nabi Muhammad SAW sebagai teladan pendidikan
Nabi Muhammad SAW memberikan contoh bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Sejak kecil, beliau telah diperkenalkan dengan kehidupan desa. Nabi Muhammad SAW disusukan kepada Halimah Sa'diyah, seorang perempuan dari lingkungan pedesaan Bani Sa'd. Kehidupan di desa menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang beliau. Dari sini kita bisa melihat bahwa desa adalah ruang pendidikan kehidupan. Di desa, manusia belajar mengenal alam, tanah, pangan, hewan, tumbuhan, dan kehidupan bersama.
2. Desa sebagai ruang pangan
Desa juga merupakan ruang utama bagi kehidupan pangan manusia. Tanah adalah tempat kita menanam. Tetapi sebelum menanam, kita perlu memahami tanah. Tanah tidak pernah benar-benar diam. Apa yang tumbuh di atasnya memberikan informasi tentang kondisi tanah tersebut. Rumput, tanaman liar, kelembapan, bahkan keberadaan makhluk-makhluk kecil dapat menjadi tanda untuk membaca keadaan tanah.Maka, bertani bukan sekadar menanam, tetapi belajar membaca alam.
3. Makanan harus halal dan thayyib
Dalam Islam, makanan memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar mengenyangkan. Ada dua prinsip penting:
- Halal
- Thayyib, baik dan memberikan kebaikan.
Selain itu, makanan juga perlu diperlakukan dengan adab: tidak israf dan tidak mubazir.
4. Makan sesuai kebutuhan
Mubazir bukan hanya berarti membuang makanan. Makan secara berlebihan juga dapat menjadi bentuk ketidaksesuaian dengan kebutuhan. Karena itu, ajaran berhenti makan
sebelum kenyang sesungguhnya mengajarkan kita untuk mengenali kebutuhan tubuh. Kita makan secukupnya, mengambil secukupnya, dan menggunakan sumber daya secukupnya.
5. Kelebihan kembali kepada kehidupan
Jika ada makanan yang berlebih, ia dapat menjadi bagian dari kehidupan makhluk lain. Di alam terdapat keseimbangan. Tikus, misalnya, memiliki fungsi dalam ekosistem. Ketika tikus terlalu sedikit, ular dapat kehilangan sumber makanan. Ketika ular berkurang, populasi tikus dapat meningkat. Artinya, setiap makhluk mempunyai peran dalam keseimbangan kehidupan. Karena itu, manusia perlu belajar hidup bersama alam, bukan hanya mengambil manfaat dari alam. Dalam konteks ini, petani adalah profesi yang abadi. Selama manusia membutuhkan makanan, selalu ada kebutuhan terhadap orang yang mengolah tanah dan menghasilkan pangan.
6. Doa harus berjalan bersama kasab
Dalam kehidupan, doa dan usaha tidak dapat dipisahkan. Kyai Abdul Muiz mengingatkan tentang kasab—ikhtiar, usaha nyata yang dilakukan manusia. Misalnya, kita ingin memanen cabai. Kita boleh berdoa agar mendapatkan hasil yang baik. Tetapi doa itu perlu berjalan bersama kasab: menyiapkan tanah, memilih benih, menanam, merawat, menyiram, menjaga tanaman dari hama, dan menunggu prosesnya. Di situlah maqam manusia: berusaha atau kasab. Hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah. Tugas manusia adalah menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Maka, doa bukan pengganti usaha. Doa memberi arah dan ketundukan kepada Allah, sementara kasab adalah bentuk tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan. Dan ketika hasil yang datang tidak persis seperti yang kita harapkan, tetap ada nilai yang kita peroleh: pahala dari usaha, pengalaman dari proses, dan
pelajaran dari kehidupan.
KADARKIM:
Belajar dari Nabi untuk kembali memahami desa, merawat tanah, menghasilkan pangan yang halal dan thayyib, makan secukupnya, menjaga keseimbangan alam, menghargai petani, serta menjalankan doa bersama kasab. Jadi, gerakan merawat desa dan pangan bukan hanya gerakan ekologis atau ekonomi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pendidikan dan pengamalan nilai-nilai keislaman.[]
Ringkasan Ceramah Kyai H. Abdul Muiz Ghazali dalam acara Maulid Nabi SAW di Saung Wangsakerta tanggal 6 September 2026