Merawat Bumi, Meneguhkan Ibadah
Halal Bihalal Yayasan Wangsakerta bersama ibu-ibu KADARKIM dan jaringan Wangsakerta dilaksankana pada hari Minggu, 4 April 2026 di Pasar Balset, menghadirkan Ibu Hjh. Fadilah Munawaroh dari Pesantren Buntet untuk memberikan Tausiyah bertema, "Ekonomi Sirkular Perempuan dan Ekologi. Acara ini juga dihadiri oleh Ibu Novi Komalasari (Camat Mundu). Berikut catatan tausiyah dan sambutan dari bu Camat. Dalam acara ini sekaligus pemberian kupon belanja bagi 200 orang (Lansia, Diffabel, Janda dan Yatim). Acara ini tersenggara atas kerjasama KUPI, Mubadalah, Kyai Faqih Abdul Kodir dan Ibu Irma S. Martam.
Poin-Poin Materi Bu Nyai Hjh. Fadilah Munawaroh
Hadir ke pengajian ini dengan upaya sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Ajaran mengolah sampah: apakah dilakukan atau hanya jarkoni? Melakukan ajaran mengelola sampah adalah bentuk mencintai lingkungan, yaitu tidak membuang sampah sembarangan.
Bencana alam terjadi karena ulah manusia sendiri. Menghamburkan air dan membiarkan sampah dapat menimbulkan bencana.
Laki-laki yang baik adalah yang mencintai dan mengasihi perempuan.
Perempuan menjadi teladan dan pemimpin; mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang. “Innii ja'ilun fil ardli khalifah.”
Mencontohkan dengan mengambil sampah; pahala memberi contoh akan mengalir terus-menerus dari orang-orang yang menirunya.
Semua yang kita lakukan untuk merawat bumi adalah bagian dari ibadah. “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduni.”
Perlakuan terhadap air bekas wudlu (wudhu) berbeda dengan air musta'mal (air bekas mencuci). Air wudlu masih bisa dimanfaatkan, misalnya untuk mencuci, bahkan untuk diminum setelah dimasak. Intinya, tidak menyia-nyiakan air.
Memilah sampah adalah ibadah. Allah mengucapkan terima kasih kepada orang yang menempatkan sampah pada tempatnya (hadits qudsi, disebutkan dalam kitab Abi Jamroh).
Nabi tidak pernah memperlakukan istri dengan kasar. Perempuan kadang lebih didengarkan oleh anak. Doakan keluarga agar diridhai Allah, misalnya saat bangun tidur. Jika sudah diridhai Allah, akan mudah melakukan kebaikan, mudah tergerak, dan tidak melakukan mubazir, baik dalam barang maupun waktu. Mubazir adalah teman setan. “Innal mubadzirina kaanu ikhwanasy syayatin.”
Biasakan izin kepada tanah, tumbuhan, rumput, tempat, dan makhluk lainnya; ini dicontohkan oleh Sunan Kalijaga. Tindakan izin akan membuat kita memiliki inner beauty.
Tata cara berkomunikasi yang baik itu penting. Kita perlu menularkan hal-hal yang baik melalui komunikasi, karena semuanya akan menjadi saksi. “Al-yauma nakhtimu 'ala afwahihim wa tukallimuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibun.”
Kiai Mahrus Ali Lirboyo: membaca 3 bait setiap hari, tidak akan kekurangan beras:
“Maulaya sholli wasallim daiman abadan 'ala habibika khairil khalqi kullihimi.”Al-ajru bi qodrit ta'ab.
Memuliakan makhluk di dunia, akan dimuliakan oleh makhluk di langit.
Poin-Poin Sambutan Bu Camat Mundu
Memuliakan makhluk, maka akan dimuliakan oleh langit.
Meninggalkan perilaku mubazir.
Kanjeng Sunan mewariskan ajaran untuk berbagi, hidup bersih, tidak membuang kotoran di depan rumah (pamali), serta nilai-nilai lainnya.
Manusia dan alam memiliki hubungan timbal balik; apa yang kita berikan itulah yang kita terima. Ini adalah sunnatullah.
Notetaker: Wakhit Hasim