Membuat Pakan Ikan Alternatif dari Limbah Olahan Ikan Asin
Pada akhir bulan Juli lalu, aku diajak terlibat dalam riset aksi blue green economy bersama mahasiswa ISIF Cirebon. Blue green economy adalah pendekatan pembangunan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam—baik darat maupun laut—secara terintegrasi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Tujuannya bukan hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memberi manfaat sosial-ekonomi jangka panjang.
Dalam riset ini, kelompokku ditempatkan di Kelurahan Kesenden, sebuah wilayah pesisir di Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Mayoritas masyarakat Kesenden, khususnya di Blok Samadikun, berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, ada tujuh unit pengolahan ikan asin yang masih aktif memproduksi untuk memenuhi permintaan pasar, baik di dalam maupun luar kota.
Produksi ikan asin di Kesenden cukup besar. Saat pasokan ikan melimpah, dalam sekali produksi, setiap pengolah bisa menghabiskan 1–2 kuintal ikan. Rata-rata, produksi dilakukan tiga kali dalam seminggu.
Seperti halnya proses produksi lainnya, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga limbah. Limbahnya terdiri dari limbah padat, seperti jeroan dan sisik ikan, serta limbah cair berupa air bekas pencucian dan perendaman. Berdasarkan wawancara dengan salah satu pekerja, limbah ini biasanya dibuang ke selokan atau tepi laut. Sesekali, limbah padat diambil warga untuk pakan lele. Namun, jika tidak ada yang mengambil, limbah akan tetap dibuang dan berpotensi mencemari perairan serta menimbulkan bau tak sedap.
Dari Pupuk ke Pakan Ikan
Awalnya, kami berencana memanfaatkan limbah jeroan ikan asin untuk dijadikan pupuk cair, terinspirasi dari beberapa jurnal yang kami temukan. Namun, setelah observasi, kami menyadari bahwa di Kesenden hampir tidak ada lahan pertanian. Ide itu pun menjadi kurang relevan, karena kami ingin hasil riset ini bermanfaat langsung bagi warga setempat.
Setelah berdiskusi lagi, kami menemukan ide baru: menjadikan limbah tersebut sebagai bahan baku pakan ikan. Alasan utamanya sederhana—di wilayah Kesenden terdapat banyak tambak ikan, sehingga hasil olahan ini bisa langsung digunakan di lingkungan sendiri.
Drama di Balik Cetakan Pakan
Percobaan pertama kami cukup menantang. Dengan bermodal tutorial YouTube, kami mencoba mencetak pakan ikan menggunakan ayakan pasir kecil. Hasilnya? Jauh dari harapan—adonan tidak membentuk pelet seperti di video. Kami lalu mencoba menggunakan kaleng bekas yang dilubangi dengan paku. Hasilnya tetap sama, pakan ikan gagal terbentuk.
Di titik ini, kami hampir menyerah. Namun, akhirnya kami memutuskan membeli gilingan daging manual seharga Rp155.000. Ternyata, alat ini memang sering digunakan pembuat pakan ikan skala rumahan. Hasil cetakannya lebih memuaskan—memang tidak sehalus pakan pabrikan, tapi sudah cukup terbentuk untuk uji coba di tambak.
Tantangan Bau Garam
Masalah belum selesai. Saat mencampurkan limbah jeroan ikan laut ke dalam adonan, pakan ikan yang dihasilkan mengeluarkan bau garam yang sangat kuat. Wajar saja—jeroan berasal dari ikan laut yang sebelumnya diasinkan. Tantangan kami berikutnya adalah mengurangi atau menghilangkan bau dan kadar garam tersebut.
Setelah beberapa kali uji coba, kami menemukan cara yang cukup efektif:
- Limbah dicuci 2–3 kali dengan air tawar.
- Direbus selama 10–15 menit, dengan mengganti air rebusan sebanyak 3–4 kali.
- Dijemur hingga benar-benar kering.
Dengan metode ini, bau garam berkurang drastis dan bahan siap diolah menjadi pakan ikan.
Harapan ke Depan
Uji coba awal ini memang masih jauh dari sempurna. Bentuk dan tekstur pakan belum sebaik produk pabrikan, tetapi kami melihat potensi besar dari inovasi ini. Jika dikembangkan lebih lanjut—misalnya dengan pengeringan yang optimal dan alat cetak yang lebih memadai—pakan ikan alternatif dari limbah jeroan ikan asin bisa menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Selain mengurangi pencemaran, inovasi ini juga membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Kalo ada yang mau racikannya boleh japri ya. Hehe []
(Riset Aksi Blue Green Economy adalah program Kolaborasi antara Yayasan Wangsakerta dengan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) didukung oleh EDC.org