Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Kembalinya Udang Air Tawar di Segara

Catatan Lapangan
Ahmad Najib Mauludin
Cover Image for Kembalinya Udang Air Tawar di Segara

SATU PRIMADONA tangkapan nelayan di Danau Setu Patok datang dari Udang Air Tawar. Warga tempatan menyebut danau ini dengan istilah "segara’. Ada masa ketika kehadiran tangkapan primadona ini sungguh melimpah, namun terhitung sejak 2020-2024, kondisinya memprihatinkan: sempat berkurang drastis, bahkan sulit ditemukan. Saat ini, nelayan dan warga kembali sumringah, udang air tawar akhirnya kembali meriah di sagara.

Pada saat tangkapan udang air tawar menurun, nelayan tempatan sempat gusar. Melihat situasi ini, para nelayan di kawasan ini tidak tinggal diam. Mereka terus melakukan upaya pengembalian populasi udang, tebar benih misalnya. Tebar benih dilakukan ketika masuk musim penghujan, orang sini menyebutnya musim banyu anyar/air baru dan benih itu didapatkan dari hasil kolektif para nelayan.

Yang mengherankan, menurut cerita para nelayan di sini: ketika waktunya panen udang-udang itu tetap hilang tak tersisa. Ini menjadi pertanyaan besar, kemana udang-udang itu pergi ? dan apa sebabnya ?

Persoalan ini saya tanyakan pada suhunya, para nelayan Desa Setupatok dan Sinarancang. Hampir semua jawabannya sama, udang-udang itu habis dimakan ikan jaguar. Orang sini menyebutnya ikan belang atau ikan monyong. Ikan jaguar (Predator) memiliki empat warna; coklat, hitam, putih dan kuning di bagian mulut, bercorak totol totol, mulutnya monyong, ukuranya tidak jauh berbeda dengan ikan mujair.

ikan.jpeg

Ikan jaguar tidak muncul tiba-tiba, ikan ini hasil sebaran orang tak dikenal. Bahkan Fadilah, Warga Setupatok, mencoba mengingat-ngingat, kalau ikan ini mulai terlihat setelah jalan baru difungsikan. Ikan ini hidup bersemayam di segara, menghantui dan menjadi mimpi buruk para nelayan, khususnya nelayan udang.

Ikan jaguar hidup bagai siluman, memakan semua makhluk-makhluk kecil, memakan plankton, udang hingga anakan mujair. Menurut informasi Fadilah juga, ikan jaguar hadir menjadi hama, mengancam keanekaragaman hayati, merusak rantai makanan, hingga memicu kepunahan spesies lokal. Dia juga menyebutkan ikan yang sudah jarang ditemui dan mungkin sudah punah seperti; ikan tawes, ikan kancra dan ikan bawal.

Selain itu, menurut Mang Yana, mantan nelayan yang sekarang berprofesi sebagai pedagang warung dan petani di segara, keberadaan ikan jaguar dampaknya tidak berhenti pada kerusakan ekosistem segara, melainkan terus menjalar sampai mengganggu mata pencaharian warga setempat. “Dulu waktu sebelum ada ikan jaguar, warga sinarancang mempunyai profesi ganda, menjadi petani di kala air segara surut dan menjadi nelayan ketika air segara pasang.” Ujar Mang Yana

Kondisi tersebut mulai hilang seiring dengan berkembang biaknya ikan jaguar. Bahkan lanjut Mang Yana, di tahun-tahun itu (2020-2024), sebagian nelayan udang menjual anco-nya (alat tangkap udang) dan memutuskan untuk berhenti menangkap udang.

Saat ini, saya mendapatkan kabar baik, kabar ini datang dari segara. Kegelisahan nelayan soal ikan jaguar akhirnya pelan-pelan lenyap. Dalam perjalanan pulang dari Mundu pada satu waktu di bulan puasa ini, saya melewati segara yang sedang pasang-pasangnya, airnya meluap menenggelamkan sawah-sawah warga. Di segara, Saya melihat jaring-jaring yang digantung di bambu-bambu kecil berbentuk persegi. Mungkin kalau tidak salah, Saya tidak melihat alat itu di tahun-tahun sebelumnya.

Malam hari, setelah selesai tarawih Saya iseng main ke warung milik Mang Yana yang berada tepat di tepi segara. Warungnya ramai, banyak anak-anak muda nongkrong, jalan seberang juga ramai banyak orang mancing, ngobor bahkan ada juga orang-orang tua yang tujuanya mungkin sama seperti Saya, hanya sekedar iseng main mencari angin. Selain bertemu Mang Yana, saya juga bertemu Mang Amo dan Mang Wanda.

segara.jpeg

Tiap menjelang sore para nelayan udang pergi ke segara. Mulai memasang satu persatu anco-nya, dipasang di satu titik yang dipercayai banyak udang. Titik tiap nelayanya berbeda. Anco juga dipasang tetap tidak berpindah-pindah begitupun di tahun berikutnya anco akan di pasang di titik yang sama. Setelah semuanya terpasang para nelayan tinggal menunggu tangkapannya datang, sembari minum kopi dan merokok, sesekali mereka menepi mencari teman ngobrol. Mereka bermalam di atas getek dan baru berkemas pulang di waktu menjelang subuh.

Tahun ini adalah tahun kedua Mang Wanda menangkap udang. Menurutnya udang tahun ini sangat melimpah. Terbukti dari hasil tangkapannya, tiap hari tak kurang dari 10kg. Harga udang per-kg mencapai 15-30k. Jadi tiap hari Mang Wanda minimal-minimalnya mengantongi uang 150k. Biaya umpan untuk menangkap udang juga sangat ekonomis. Hanya bermodal bangkai ikan dan tumbukan keong sawah, dimasukan kedalam karung lalu digantung diatas anco. Tiap 30 menit sekali, nelayan menaburkan dedak yang sudah dicampur air guna untuk memancing udang-udang masuk perangkap dan diangkat setiap satu jam sekali untuk diambil udang-nya.

Menurut Mang Amo, pemandangan segara sekarang ini sangat jauh berbeda dengan dulu. Dulu hampir sepanjang segara terdapat anco berjajar. Sekarang mungkin hanya 3-4 nelayan saja yang memasang anco. Ini dikarenakan harga jaring lawe yang sudah sangat mahal. Harga jaring lawe untuk satu anco bisa mencapai 700-900k, berbeda dengan waktu Mang Amo bujang, jaring lawe harganya hanya 20k saja, jadi hampir semua orang mempunyai anco di rumahnya.

Walaupun di tahun ini harga anco mahal, tapi menurutnya dalam kurun waktu satu bulan saja modal itu akan kembali.“Dulu udang dan ikan di segara itu sangat banyak dan ada dengan sendirinya. Kalo sekarang itu hasil sebaran benih dari nelayan. Jadi dulu anak-anak muda sini gak bingung cari uang untuk beli rokok, tinggal mancing dan nganco saja” katanya.

Kembalinya udang-udang di segara tidak hanya menjadi kabar baik bagi para nelayan setempat, tetapi menjadi kabar baik untuk kita semua. Udang berperan penting dalam ekosistem danau. Keberadaan udang di satu wilayah perairan menandakan bahwa airnya sehat, karena udang berperan sebagai pengurai bahan organik dan membantu menjaga kualitas air. Udang sangat sensitif, udang tidak akan hidup berkembang biak di air yang tercemar. Udang juga memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dapat memulihkan mata pencaharian nelayan yang sempat terganggu.[]


Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru