Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Jualan Keliling di Kampung: Tradisi Lama, Jalan Baru Anak Muda Desa

Catatan Lapangan
Ahmad Najib Mauludin
Cover Image for Jualan Keliling di Kampung: Tradisi Lama, Jalan Baru Anak Muda Desa

Kamis, 16 Desember 2025, kangkung-kangkung itu kami ikat rapi lalu disusun ke dalam keranjang merah. Kangkung hasil panen dari lahan belakang Saung Wangsakerta ini rencananya akan kami jual berkeliling kampung. Sebagian sudah lebih dulu dijajakan oleh Gesa dan Ipan, kawan yang juga mondok di saung.

“Sudah keliling Karangdawa sampai Kedung Krisik,” kata Gesa sambil membawa sisa kangkung yang belum terjual. Aku heran. Kangkung adalah sayur yang hampir setiap hari dimasak orang kampung. Mengapa tidak habis?

Aku pun berkemas. Bersama Ipan, kami kembali berangkat menggunakan motor, menyusuri gang-gang Kampung Karangdawa.

WhatsApp Image 2026-01-20 at 18.11.24 (1).jpeg

Kampung ini selalu hidup. Ibu-ibu mengupas bawang dan cabai di teras rumah, nelayan menjahit jala, anak-anak berlarian di jalan sempit. Meski banyak kepala keluarga merantau atau berdagang ke luar kota, Karangdawa tak pernah benar-benar sepi. Kampung ini terus bergerak dengan caranya sendiri.

Kangkung kami tawarkan dari satu rumah ke rumah lain. Tak lama, keranjang kosong. Semua habis terjual.

Berjualan keliling di kampung ini membawaku ke ingatan masa kecil. Saat masih sekolah dasar, nenek sering menyuruhku menjajakan es mambo buatannya. Aku menolak—malu, takut tak ada yang membeli. Pengalaman yang barangkali juga dialami banyak anak kampung. Baru sekarang aku menyadari, lewat cara sederhana itulah orang tua dulu melatih kemandirian dan keberanian
anak-anaknya.

Kini, aku justru menikmati berjualan. Tak ada lagi rasa
malu. Tujuannya jelas: hasil penjualan kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan Saung Wangsakerta yang belum bisa kami produksi sendiri. Lebih dari itu, jualan keliling melatih kesabaran, memperluas relasi sosial, dan membuktikan bahwa bertani masih bisa menjadi sumber penghidupan—peluang yang makin jarang dilirik anak muda desa.

Dalam satu kali panen, kami menjual sekitar 70–80 ikat kangkung seharga Rp3.000 per ikat. Panen dilakukan dua minggu sekali. Selain kangkung, kami juga menanam cabai, terong bulat, terong ungu, dan kucai. Setiap minggu, sayuran itu kami jual berkeliling kampung terdekat, dan hampir selalu habis.

WhatsApp Image 2026-01-20 at 18.07.44 (2).jpeg

Di tengah gempuran ekonomi digital, jualan keliling sering dianggap kuno dan tertinggal. Transaksi kini berpindah ke layar ponsel. Penjual dan pembeli tak perlu bertemu. Digital marketing memang efisien dan
menjangkau pasar luas, tetapi ada hal yang hilang: perjumpaan manusia.

Saat berjualan, aku mendengar banyak cerita. Bi Kasini mengeluhkan pohon jeruk purutnya yang tak kunjung berdaun karena ulat. Mang Udin berbagi siasat beternak entok saat harga pakan naik. Ada kabar anak-anak muda kampung, ada cerita dapur, ada pengetahuan yang mengalir tanpa diminta.
Informasi-informasi ini tak akan muncul dalam transaksi digital yang dingin dan singkat.

Jualan keliling yang kami lakukan bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia menjadi alat pendekatan sosial, ruang belajar, sekaligus cara membangun kepercayaan. Meski sudah lama tinggal di sekitar kampung, justru lewat jualan keliling aku mengenal warga yang sebelumnya tak pernah bertegur
sapa.

Di sinilah aku melihat jualan keliling sebagai praktik kecil transformasi sosial. Ketika anak muda desa memilih bertani, mengolah hasilnya, lalu menjual langsung ke kampungnya sendiri, mereka sedang merebut kembali ruang ekonomi lokal yang perlahan ditinggalkan. Mereka tidak hanya menjual sayur, tetapi juga menjaga sirkulasi ekonomi tetap hidup di kampung.

Dalam konteks desa hari ini—di tengah sempitnya lapangan kerja, krisis minat bertani, dan arus urbanisasi—praktik sederhana seperti ini menjadi penting. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari proyek besar atau teknologi canggih, tetapi bisa dimulai dari gang sempit, keranjang sayur, dan keberanian untuk berinteraksi.

Tradisi yang sering dianggap usang ini ternyata menyimpan banyak pelajaran. Konsumen kita sebenarnya ada di depan mata: tetangga sendiri.
Dari jualan keliling, anak muda desa bisa belajar tentang kerja, martabat, relasi sosial, dan keberanian memulai. Barangkali, dari ikatan-ikatan kangkung
inilah, jalan baru transformasi sosial desa bisa dirajut—pelan, sederhana, tapi berakar kuat.[]



Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru