Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

HORMUZ

Toto Rahardjo
Cover Image for HORMUZ

Di peta dunia, Selat Hormuz hanya garis sempit di antara dua daratan: Iran dan Oman. Tapi seperti banyak garis lain dalam sejarah, ia tak pernah sekadar geografi. Ia adalah simpul kekuasaan—tempat ekonomi, militer, dan ideologi bertemu, lalu saling menekan.

Ekonom Amerika Michael Hudson pernah menulis bahwa banyak perang modern tak sepenuhnya soal wilayah. Ia lebih sering tentang sistem. Tentang bagaimana sebuah tatanan ekonomi global dipertahankan. Tentang siapa yang berhak menentukan aturan.

Perang yang kini dibicarakan antara Iran, Israel, dan United States sering dipresentasikan sebagai konflik keamanan: nuklir, stabilitas regional, atau pertahanan demokrasi. Tapi di bawah narasi itu ada lapisan lain—lapisan yang lebih dingin dan lebih sistemik. Minyak.

Sejak 1970-an, minyak tidak hanya menjadi komoditas energi. Ia menjadi fondasi sistem moneter global melalui apa yang dikenal sebagai petrodollar. Kesepakatan antara United States dan Saudi Arabia setelah runtuhnya standar emas membentuk aturan tak tertulis: minyak dunia dijual dalam dolar.

Dari situ lahir sebuah lingkaran kekuasaan yang elegan sekaligus keras. Negara membeli minyak dengan dolar. Negara produsen menyimpan surplusnya dalam dolar. Dolar menjadi mata uang cadangan dunia. Ekonomi Amerika memperoleh apa yang oleh ekonom Prancis dahulu disebut exorbitant privilege—hak istimewa yang tak dimiliki negara lain.

Dalam sistem ini, geopolitik menjadi mekanisme penjaga. Sosiolog dunia-sistem Immanuel Wallerstein pernah mengingatkan bahwa kapitalisme global tidak pernah berdiri tanpa struktur kekuasaan yang menjaganya. Ia membutuhkan pusat—core—dan pinggiran—periphery. Negara yang berada di pinggiran sering memiliki sumber daya, tetapi tidak memiliki kendali atas harga, teknologi, atau sistem keuangan.

Di sinilah konflik muncul.

Iran adalah salah satu dari sedikit negara produsen minyak besar yang sejak revolusi 1979 secara konsisten menolak orbit ekonomi Amerika. Ia tidak sepenuhnya masuk ke jaringan keamanan Barat, tidak sepenuhnya tunduk pada sistem finansial global yang dikendalikan dolar.

Dalam narasi Barat, itu disebut “rezim otoriter”. Dalam narasi Tehran, itu disebut “kedaulatan”. Dua kata yang tampak moral, tetapi sesungguhnya politis.

Perang di Ukraine memperlihatkan pola yang mirip. Konflik itu tidak hanya soal perbatasan antara Russia dan Ukraina. Ia juga berkaitan dengan energi Eurasia, jaringan pipa gas, dan perebutan pengaruh antara North Atlantic Treaty Organization dan Moskow.

Sejarah sering bergerak seperti ini: energi memanggil militer, militer melahirkan ideologi. Namun dunia juga berubah. Kelompok negara yang kini disebut BRICS mencoba membangun sistem alternatif: perdagangan lintas mata uang, bank pembangunan sendiri, dan jalur finansial yang tidak sepenuhnya bergantung pada dolar. 

Meski demikian, perubahan itu berjalan lambat. Jaringan finansial global terlalu luas untuk diganti dalam satu dekade. Karena sistem, seperti kata Karl Polanyi, selalu menciptakan institusinya sendiri—dan institusi itu jarang menyerah tanpa perlawanan.

Selat Hormuz kemudian menjadi simbol lain dari konflik ini. Hampir seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit itu. Siapa yang mengontrolnya tidak hanya mengendalikan kapal tanker, tetapi juga psikologi pasar energi.

Itulah sebabnya setiap ketegangan di sana langsung mengguncang harga minyak, bursa saham, dan diplomasi global.

Namun ada ironi lain. Di banyak negara yang disebut “Global South”—atau seperti istilah yang lebih politis, the global majority—reaksi publik sering terbelah. Sebagian berharap lahirnya tatanan dunia baru yang lebih adil. Sebagian lain justru merasa aman berada di bawah bayang-bayang kekuatan lama.

Mentalitas kolonial, kata banyak pemikir pasca kolonial, sering bertahan lebih lama daripada kolonialisme itu sendiri. Frantz Fanon pernah menulis bahwa bangsa terjajah sering mewarisi psikologi penjajah: cara berpikir, cara melihat dunia, bahkan cara membayangkan masa depan.

Maka konflik global hari ini bukan hanya konflik militer. Ia juga konflik imajinasi. Apakah dunia akan tetap berada dalam orbit satu pusat kekuasaan—atau bergerak menuju sistem yang lebih plural? Tidak ada jawaban pasti. Sejarah jarang memberi kepastian. Ia hanya memberi tanda-tanda: krisis energi, perang proksi, blok ekonomi baru, dan ketegangan yang terus berulang.

Selat Hormuz tetap sempit. Tapi di sekitarnya berputar pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya mengendalikan dunia—dan siapa
yang hanya percaya bahwa ia mengendalikannya.[]



Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru