Hidden Curriculum Wangsakerta
Kemarin malam, sambil ngobrol santai di rumah, seorang kawan bercerita tentang anak-anak Wangsakerta yang sekarang ikut bekerja bersamanya. “Anak-anak Wangsakerta itu bisa diandalkan,” katanya. “Etos kerjanya bagus. Sikapnya juga baik.” Lalu ia bercerita tentang salah seorang dari mereka. Ketika pertama kali ikut bekerja, ia belum bisa membaca dan berhitung dengan baik.
Tetapi anak itu mau belajar. Tidak malu bertanya. Bersedia ditempa. Mau mencoba lagi ketika salah. Pelan-pelan ia bisa.
Mendengar cerita itu, tentu saja kami bahagia. Bukan karena merasa berhasil mendidik seseorang, tetapi karena melihat sesuatu yang dulu tumbuh dalam proses sederhana di Wangsakerta ternyata ikut terbawa ketika mereka melangkah ke tempat lain. Selama ini kami tidak punya kelas khusus untuk mengajarkan etos kerja, tanggung jawab, atau karakter.
Anak-anak belajar melalui pekerjaan dan persoalan yang nyata.
Ketika kekeringan datang, kami mencari cara mendapatkan air.
Ketika tanah harus ditanami, kami belajar menanam.
Ketika sampah menumpuk, kami belajar mengelolanya.
Ketika harus membangun gedung, kami ikut membangun.
Ketika jalan harus dibuat, kami membuatnya.
Ketika ada masalah, kami belajar menyelesaikannya bersama.
Inilah hidden curriculum Wangsakerta.
Kami tidak sedang mengajarkan karakter. Kami menciptakan ruang agar karakter ditempa oleh kehidupan. Di sanalah anak-anak belajar bahwa sesuatu yang belum bisa dilakukan bukan berarti tidak bisa dipelajari; bahwa pekerjaan tidak selalu mudah; dan bahwa ketika bekerja bersama orang lain, ada tanggung jawab yang harus dijaga.
Dari sekian banyak anak muda yang belajar di Wangsakerta, sebagian kemudian kami rekomendasikan untuk bekerja atau belajar di tempat lain. Tidak semuanya langsung menjadi “orang jadi”.
Tidak selalu mulus. Tetapi ada yang tumbuh menjadi anak muda yang gigih, dapat dipercaya, bersedia belajar, dan mampu membuktikan dirinya kepada keluarga, atasan, maupun koleganya.
Keterbatasan kami justru menjadi blessing in disguise. Anak-anak (yang kami sebut warga belajar wangsakerta) belajar menggunakan apa yang ada, mencari ketika tidak ada jawaban, dan menemukan kemampuan yang mungkin sebelumnya tidak mereka sadari. Karena pekerjaan kami nyata, mereka belajar dari kenyataan.
Dan mungkin, pendidikan yang paling penting bukan yang membuat seseorang tahu banyak hal, tetapi yang membuatnya tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kehidupan.
Semoga semakin banyak anak muda yang bangkit—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keluarganya dan untuk Indonesia.
Cirebon, 1 Oktober 2026
Keterangan foto:
Ulil (warga belajar yang baru belajar 1 bulan di Wangsakerta) mengergaji kayu untuk booth Pasar Hijau Cikomboy. Ia ikut bekerja, membantu pembangunan Pasar Hijau Cikomboy bersama warga belajar Wangsakerta lainnya, Pemdes Matangaji dan para mahasiswa KKN UIN SSC.[]