Godzilla di Langit Nusantara
Suatu pagi, seorang petani berdiri di tepi sawahnya yang pecah-pecah seperti kulit tua. Tanah itu menganga, memamerkan luka-luka panjang yang tak lagi mampu menyimpan air. Di kejauhan, burung kuntul masih melintas rendah, tetapi tak ada lagi genangan tempat mereka mencari makan. Angin membawa bau debu dan jerami kering. Di bawah capingnya, lelaki itu memandangi langit yang bersih tanpa awan—langit yang dulu selalu menjadi pertanda harapan, kini justru menakutkan.
Ia teringat tahun 1997. Tahun ketika banyak sungai nenyusut, sumur-sumur mengering, dan asap kebakaran hutan menutupi langit Sumatra dan Kalimantan selama berbulan-bulan. Orang-orang tua desa masih menyebut masa itu dengan nada pelan, seperti sedang membicarakan kematian seseorang dalam keluarga. El Niño besar kala itu bukan sekadar fenomena iklim. Ia adalah ingatan kolektif tentang sawah gagal panen, harga beras yang melonjak, anak-anak yang berhenti sekolah karena orang tua kehilangan penghasilan, dan ibu-ibu yang menghemat nasi dengan mencampurnya bersama gaplek atau jagung.
Kini, hampir tiga dekade kemudian, ancaman serupa kembali disebut-sebut. Para pengamat iklim mulai menggunakan istilah yang terdengar ganjil sekaligus mengerikan: “El Niño Godzilla”. Sebuah metafora modern untuk sesuatu yang sesungguhnya sangat tua—siklus panas Samudra Pasifik yang mampu mengubah nasib jutaan manusia di negeri kepulauan seperti Indonesia.
Di ruang-ruang berpendingin udara, ancaman itu dibahas lewat grafik suhu permukaan laut dan anomali atmosfer. Di kantor-kantor meteorologi, angka-angka bergerak di layar komputer. Namun di desa-desa pertanian, El Niño dibaca dengan cara yang jauh lebih sunyi: embun yang terlambat turun, tanah yang cepat retak, batang padi yang pendek, serta suara pompa air yang menyala lebih lama dari biasanya. Bagi petani, cuaca bukan statistik. Ia adalah nasib.
Seorang perempuan paruh baya menyimpan catatan musim di balik lemari kayu rumahnya. Ia tak pernah belajar klimatologi, tetapi ia hafal kapan hujan biasanya datang, kapan angin timur mulai membawa hawa dingin, dan kapan burung-burung kecil muncul di pematang. Tahun-tahun terakhir membuatnya bingung. Musim tidak lagi memiliki kepastian. Hujan datang terlambat lalu jatuh sekaligus dalam jumlah besar. Setelah itu panas berkepanjangan menyusul seperti hukuman. “Tanah sekarang gampang marah,” katanya suatu sore. Kalimat itu terdengar sederhana, Namun di situlah inti persoalan perubahan iklim: manusia modern terlalu lama memperlakukan alam sebagai mesin produksi, bukan sebagai ruang hidup bersama.
Indonesia memang dibangun di atas sejarah agraris yang panjang. Pada masa kolonial, kekuasaan bahkan diukur dari kemampuan mengendalikan air dan panen. Di Jawa, jaringan irigasi menjadi alat politik sekaligus ekonomi. Pemerintah Hindia Belanda memahami bahwa padi bukan sekadar makanan, melainkan fondasi stabilitas sosial. Karena itu, kekeringan selalu menjadi ancaman politik yang serius. Dalam arsip-arsip lama, musim kering ekstrem hampir selalu diikuti keresahan sosial: pencurian hasil bumi, migrasi tenaga kerja, kenaikan harga bahan pokok, hingga wabah penyakit. Ingatan sejarah itu seakan kembali mengetuk pintu.
El Niño 2026 diperkirakan membawa kemarau panjang yang dapat menggerus produksi pangan nasional. Sawah-sawah yang bergantung pada tadah hujan menjadi wilayah paling rentan. Ketika air berkurang, bukan hanya padi yang mati perlahan, tetapi juga seluruh rantai kehidupan desa ikut terguncang. Buruh tani kehilangan pekerjaan harian. Pedagang gabah kehilangan pasokan. Tukang ojek desa kehilangan penumpang karena pasar sepi. Bahkan warung kecil pun ikut terkena dampaknya karena orang mulai mengurangi belanja.
Krisis pangan selalu menjalar secara diam-diam. Ia tidak langsung meledak seperti bom. Ia masuk perlahan ke dapur-dapur rumah tangga: ukuran lauk yang mengecil, minyak goreng yang dihemat, anak-anak yang mulai terbiasa mendengar kalimat, “Besok saja belinya.” Di banyak desa, petani sebenarnya memahami ancaman itu. Mereka tidak kekurangan pengalaman. Yang sering mereka kekurangan adalah perlindungan.
Seorang petani muda berkata bahwa biaya tanam kini terasa seperti perjudian. Harga pupuk naik, cuaca tak menentu, dan hasil panen sulit diprediksi. Jika gagal panen sekali saja, utang bisa menumpuk berbulan-bulan. Dalam situasi seperti itu, istilah “Nilai Tukar Petani” yang sering terdengar di laporan ekonomi mendadak memiliki wajah manusia. Di balik singkatan NTP terdapat keluarga-keluarga yang menunda membayar sekolah anak, menjual ternak, atau menggadaikan perhiasan kecil demi bertahan hidup.
Tetapi manusia desa selalu memiliki cara untuk bertahan. Di beberapa tempat, petani mulai kembali menanam varietas lokal yang lebih tahan kering. Sebagian membangun embung kecil secara gotong royong. Ada kelompok tani yang mulai belajar membaca informasi cuaca dari telepon genggam sederhana. Di lereng-lereng, orang-orang tua masih mengajarkan cara menyimpan air hujan seperti yang dilakukan generasi sebelumnya. Pengetahuan tradisional yang lama dianggap kuno itu perlahan kembali menemukan relevansinya.
Barangkali di situlah ironi zaman ini: modernitas membuat manusia merasa mampu mengendalikan alam, sampai perubahan iklim mengingatkan bahwa manusia tetap makhluk yang rapuh.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab besar. Irigasi harus diperkuat bukan sekadar sebagai proyek fisik, tetapi sebagai sistem perlindungan sosial. Cadangan pangan tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan tahunan. Penyuluh pertanian perlu hadir kembali sebagai jembatan pengetahuan antara sains dan kehidupan desa. Sebab perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah berdiri di depan pintu.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa krisis sering kali memperlihatkan siapa yang paling mudah dilupakan. Petani adalah kaum yang selama ini menjaga pangan Indonesia, tetapi paling sering dibiarkan menghadapi risiko sendirian. Mereka bekerja di bawah matahari yang semakin panas, menghadapi harga pasar yang tak stabil, sekaligus menjadi pihak pertama yang menerima dampak perubahan iklim. Ironisnya, di kota-kota besar, nasi tetap hadir di meja makan tanpa banyak orang benar-benar memikirkan dari mana ia datang. Mungkin karena pangan terlalu akrab, manusia lupa bahwa ia lahir dari kerja panjang yang sangat rentan.
El Niño 2026, bila benar datang sebesar yang diperkirakan, bukan hanya ujian bagi sektor pertanian. Ia adalah ujian bagi ingatan kolektif bangsa ini: apakah Indonesia masih menganggap petani sebagai fondasi kehidupan, atau sekadar angka yang disebut setiap kali panen raya tiba.
Di sebuah desa yang mulai kekurangan air, seorang anak kecil membantu ayahnya menutup retakan tanah dengan lumpur sisa di saluran irigasi. Matahari hampir tenggelam. Langit berwarna jingga pucat. Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Di kejauhan, suara azan magrib terdengar tipis diterpa angin kering—seperti banyak keluarga petani lainnya di negeri ini, mereka tetap berharap hujan datang sebelum segalanya terlambat.[]