Dari Tanah untuk Tanah: Bioherbisida Daun Ketapang
Catatan ini saya tulis untuk merefleksikan awal pengalaman saya sebagai "warga belajar" yang
melakukan kegiatan bertani di Saung. Tulisan ini berangkat dari pengalaman personal, riset, pengamatan lapangan, serta refleksi dalam melakukan praktik pertanian organik.
Sabtu, 10 Januari 2026. Curah hujan yang tinggi sejak akhir tahun 2025 hingga hari ini mengakibatkan lahan garapan kami yang berupa bedengan tergenang air. Terjadi sedimentasi yang cukup parah pada bedengan dan rorak (lubang resapan) yang sudah kami buat. Berdasarkan pengamatan tersebut, kami berupaya memperbaiki, merapikan, serta membuat kembali rorak pada titik-titik
lainnya dengan cara sederhana: mencangkul.
Kegiatan ini kami lakukan seharian penuh. Dimulai pukul 08:00 s.d. 10:00 WIB, lalu diselingi waktu istirahat ketika matahari mulai terasa menyengat di punggung, kemudian kami lanjutkan kembali hingga petang hari. Di sela-sela waktu istirahat, ada satu hal yang sangat mengganggu pandangan saya: gulma.
Sosok tak diundang ini tumbuh lebih cepat, lebih rakus, dan jauh lebih agresif. Mereka mencuri jatah nutrisi dan memonopoli sinar matahari yang seharusnya milik tanaman kami.
Kenapa Harus Daun Ketapang?
Malam harinya, saya mencoba mencari literatur tentang bahan organik yang bisa digunakan sebagai
bioherbisida—zat yang menurut KBBI digunakan untuk membunuh atau memusnahkan tumbuhan pengganggu. Ternyata, bahan tersebut melimpah di sekitar Saung, yakni pohon Ketapang.
Pohon ini ditanam pada tahun 2021 oleh Zidan dengan rencana awal sebagai peneduh dan penghias area Saung. Ternyata, bagian yang bisa dijadikan bahan bioherbisida adalah biji dan daunnya. Saya memilih daun karena lebih mudah didapatkan, baik dengan mengambil yang sudah berguguran di tanah maupun memetik langsung dari rantingnya. Sementara itu, bijinya tetap kami gunakan untuk pembibitan kembali.
Daun ketapang efektif sebagai bioherbisida alami karena mengandung senyawa seperti tannin,
saponin, dan fenolik. Senyawa-senyawa ini bersifat alelopati, yaitu kemampuan tumbuhan untuk mengeluarkan zat kimia ke lingkungan yang dapat
menghambat pertumbuhan tumbuhan lain di sekitarnya (Mudasir, 2023).
Bahan yang dibutuhkan:
- Daun ketapang segar/ kering berwarna merah
75 gram - Air 900 ml rebus (bukan air PDAM)
- Wadah/ember
Langkah Pembuatan:
- Cuci daun hingga bersih,
potong kecil-kecil (cacah), lalu rendam dalam air selama 7 hari. - Lakukan pengadukan dua kali
sehari (pagi dan sore) untuk proses ekstraksi. - Saring ampasnya untuk
mendapatkan larutan siap pakai
Tips: Jika menggunakan EM4 dan Molase, fermentasikan kembali selama 3 hari setelah penyaringan untuk mempercepat penguraian senyawa alelopati.
Ciri Keberhasilan: Larutan berwarna hitam pekat seperti kopi atau teh, sedikit berbusa, dan memiliki aroma khas seperti tape.
Pengaplikasian dan Hasil
Bioherbisida ini saya semprotkan pada gulma dengan dosis 100% (tanpa campuran air tambahan). Saya menambahkan sedikit sabun cuci piring sebagai
perekat agar senyawa bioherbisida menempel kuat pada daun, batang, dan akar saat proses fotosintesis berlangsung.
Penyemprotan dilakukan rutin pada pukul 08:00 s.d. 09:00 WIB. Berdasarkan pengamatan saya:
- Hari ke-1 & 2: Belum terlihat perubahan fisik pada gulma.
- Hari ke-4: Daun gulma mulai menguning.
Perkembangan Ini membuktikan bahwa bioherbisida bekerja dengan baik, meskipun reaksinya cenderung lebih lambat dibandingkan herbisida kimia.
Refleksi
Saya menyadari bahwa menjadi seorang "warga belajar" di Saung Wangsakerta adalah sebuah perjalanan menanggalkan ego. Pengalaman mencangkul dari pagi hingga petang di bawah sengatan matahari bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan proses penyadaran diri. Saat sedimentasi menutup rorak, alam sedang menunjukkan kekuatannya dan menuntut kita untuk memperbaiki apa yang rusak.
Keberadaan gulma yang saya sebut sebagai "sosok tak diundang" sebenarnya adalah cermin dari ketidaksabaran manusia. Kita sering melihat alam sebagai kompetisi: siapa yang paling cepat tumbuh, dialah pemenangnya. Namun, melalui riset daun ketapang ini, saya belajar bahwa alam menyediakan solusinya sendiri. Solusi itu tidak selalu ada di toko-toko pupuk kimia.
Memilih daun ketapang adalah keputusan sadar untuk melihat sumber daya di sekitar. Ada rasa syukur yang mendalam ketika menyadari bahwa jawaban atas masalah gulma ada pada daun-daun cokelat yang selama ini saya injak. Proses memungut, mencacah, dan mengaduk rendaman ini adalah upaya untuk berdamai dengan lahan tanpa harus meracuninya. Inilah siklus yang seharusnya: dari tanah, untuk tanah.[]
Cirebon, 23 Januari 2026.