Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Dari Pinggir Sawah ke Ruang Belajar: Pertanian sebagai Arena Belajar untuk Praktik Kehidupan

Catatan Lapangan
Riyanti
Cover Image for Dari Pinggir Sawah ke Ruang Belajar: Pertanian sebagai Arena Belajar untuk Praktik Kehidupan

Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga petani di sebuah desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun lahan garapan sawah yang dikerjakan orangtua saya hanya sedikit. Posisi keluarga saya dalam dunia pertanian desa lebih banyak sebagai  buruh tani. Bapak saya bekerja sebagai buruh tani yang mengandalkan upah harian, sementara ibu saya sesekali membantunya di sawah.

Catatan ini saya tulis untuk merefleksikan pengalaman hidup saya sebagai anak buruh tani, sekaligus perubahan cara saya memaknai pertanian setelah berada di tempat belajar baru, yaitu Saung Wangsakerta. Tulisan ini berangkat dari pengalaman personal, pengamatan lapangan, serta refleksi atas keterlibatan saya dalam praktik pertanian organik
atau regeneratif.

Desa tempat saya dibesarkan merupakan desa agraris dengan hamparan sawah yang menjadi pusat aktivitas ekonomi warga. Siklus kehidupan masya-rakat sangat bergantung pada musim tanam dan panen padi. Pada masa panen, desa menjadi lebih hidup, sementara pada masa paceklik, kehidupan berjalan lebih pelan dan penuh kehati-hatian. 

Desa ini bernama Tegalmulya, terletak di kecamatan krangkeng kabupaten Indramayu. Sebagai buruh tani,
keluarga saya tidak memiliki kendali penuh atas proses pertanian. Kehidupan kami sangat bergantung pada ketersediaan pekerjaan di sawah orang lain. Hal ini membentuk pola hidup keluarga yang sederhana dan penuh ketergantungan pada musim.

WhatsApp Image 2026-01-13 at 21.22.58.jpeg

Bapak saya bekerja sebagai buruh tani sejak lama, mengerjakan berbagai pekerjaan di sawah milik orang lain, mulai dari mengolah tanah, perawan, hingga panen. Ibu saya tidak selalu terlibat, tetapi pada waktu-waktu tertentu, seperti masa tanam dan panen, beliau ikut membantu untuk menambah penghasilan keluarga. 

Sebagai anak, saya tumbuh dengan kesadaran bahwa pertanian adalah bagian dari hidup keluarga saya, namun pada saat yang sama saya berada pada posisi yang relatif jauh dari proses inti bertani. Saya tidak pernah terlibat langsung dalam kegiatan menanam padi atau mengelola sawah secara utuh. Keterlibatan saya dalam aktivitas pertanian di
desa sangat terbatas. Saya tidak pernah mengalami secara langsung proses menanam padi, menyemai benih, atau merawat tanaman. Kehadiran saya di sawah biasanya hanya terjadi pada masa panen. Itu pun peran saya sangat sederhana, yaitu membantu proses pengeringan padi atau penjemuran gabah.

Pengalaman tersebut membuat saya lebih sering berada di posisi pengamat alias mengamati dari jauh daripada pelaku langsung. Saya melihat bagaimana orang tua bekerja keras di sawah, namun saya sendiri tidak benar-benar memahami proses pertanian secara menyeluruh.

Sawah bagi saya saat itu lebih sebagai ruang kerja orang tua, bukan ruang belajar. Bahkan orang tua saya juga sepertinya tidak menginginkan anaknya
terlalu terlibat dalam kegiatan di sawah, kecuali pada masa panen yang memang biasanya memerlukan banyak tenaga, barulah orang tua saya mengajak anak-anaknya untuk membantu langsung ke sawah dan itu juga hanya berlaku pada kakak dan adik
saya yang laki-laki, sedangkan saya sebagai perempuan terkadang hanya dimintai
tolong untuk membantu menjemur padi.  

Situasi ini juga sering saya lihat di lingkungan sekitar saya, di mana anak muda sepertinya tidak terlalu tertarik akan bertani, serta para orang tua yang tidak menginginkan anaknya bekerja seperti mereka, karena menurut pandangan saya pribadi hasil dari bertani terkhusus di daerah saya masih belum maksimal, terkadang pada saat panen banyak yang mengalami penurunan jumlah panen bahkan kegagalan panen, hal yang sering ditemui biasa karena hama tikus dan cuaca, karena cuaca sekarang sudah tidak menentu, terkadang pada saat panen terjadi hujan yang cukup sering dan lebat yang merusak dan mempersulit proses panen, serta masih banyak hal lainnya yang saya sendiri kurang mengetahui dan menyadarinya.

Karena kurangnya minat dalam dunia pertanian, khususnya padi, yang menurut saya itu pekerjaan yang berat dan tentu saya juga tidak yakin akan bisa melakukannya dan tidak ada sama sekali kepiki
mau jadi petani. Tetapi Pengalaman saya terhadap dunia pertanian mulai berubah ketika saya belajar di Saung Wangsakerta. Di tempat ini, pertanian tidak hanya dipraktikkan sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang belajar, refleksi, dan  hubungan antara manusia dan alam. Berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya, di Saung Wangsakerta saya terlibat secara langsung dalam seluruh proses pertanian yaitu di bidang tanaman
organik meskipun bukan padi, tetapi tanaman lainnya.

Saya ikut berperan sejak tahap penyemaian benih, perawatan tanaman, hingga proses panen. Keterlibatan ini membuat saya memahami pertanian sebagai sebuah proses panjang yang membutuhkan
kesabaran, ketelatenan, dan tanggung jawab. Melalui praktik bertani organik, saya belajar bahwa pertanian bukan sekadar menanam dan memanen, tetapi
juga tentang merawat kehidupan. Saya belajar mengenali tanah, memahami kebutuhan tanaman, serta menyadari pentingnya keseimbangan ekosistem.

Proses merawat tanaman dari awal hingga panen memberi saya pengalaman yang sebelumnya
tidak saya dapatkan di desa asal. Pengalaman ini menjadi titik balik dalam cara saya memandang pertanian. Jika sebelumnya saya hanya melihat hasil akhir berupa padi yang dijemur, kini saya memahami keseluruhan proses yang melahirkan hasil tersebut.

Sebagai anak buruh tani, saya tumbuh di sekitar pertanian tanpa benar-benar menjadi bagian utuh dari prosesnya. Namun, di Saung Wangsakerta, saya justru menemukan ruang di mana saya bisa menjadi subjek aktif dalam pertanian. Perpindahan ruang ini membuat saya menyadari bahwa keterlibatan dalam bertani tidak hanya ditentukan oleh latar belakang keluarga, tetapi juga oleh kesempatan belajar dan ruang partisipasi.

Pengalaman ini juga membuat saya merefleksikan kembali posisi orang tua saya sebagai buruh tani, yang bekerja keras namun sering kali tidak memiliki ruang untuk belajar dan bereksperimen dengan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Pengalaman saya menunjukkan adanya jarak antara kehidupan buruh tani di desa dan praktik pertanian yang ideal dan berkelanjutan. Saung Wangsakerta memberi contoh bahwa pertanian dapat menjadi ruang pembelajaran, bukan sekadar ruang kerja. Hal ini menjadi penting dalam konteks regenerasi petani dan pendidikan pertanian berbasis komunitas.

Catatan lapangan ini merekam perjalanan saya dari anak buruh tani yang hanya terlibat di pinggir proses
pertanian, menuju individu yang belajar dan terlibat langsung dalam praktik bertani organik di ruang baru. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pemahaman saya tentang pertanian, tetapi juga membantu saya memaknai kembali identitas
diri, keluarga, dan relasi dengan alam. []



Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru