Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta
Strategi UmumCatatan LapanganNgengerJelajah EnsiklopediaDonasi
kontak

Dari Pengalaman Petani Menuju Rantai Usaha Sorgum

catatan lapangan
Wangsakerta
Cover Image for Dari Pengalaman Petani Menuju Rantai Usaha Sorgum

Catatan Musyawarah Petani Karangdawa

Musyawarah Petani Budidaya Sorgum dihadiri oleh para petani Dusun Karangdawa, yang sebagian besar adalah perempuan. Kegiatan dibuka oleh Farida Mahri, Ketua Yayasan Wangsakerta.

Dalam sambutannya, Farida menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari proses Wangsakerta yang secara sporadik menggali pengalaman dan mencoba memahami potensi sorgum, termasuk pengalaman petani di Karangdawa.

Dari proses tersebut muncul pertanyaan: apakah sorgum dapat menjadi peluang usaha bagi petani, khususnya petani Karangdawa, dan apa yang perlu disiapkan agar budidaya sorgum benar-benar memiliki nilai ekonomi?

Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman petani, pengetahuan tentang
sorgum, teknologi, dan peluang usaha.

Pemaparan tentang Sorgum

Ahmad Mahmudi, Pembina Wangsakerta, selaku fasilitator sekaligus narasumber utama, mengawali musyawarah dengan memberikan pemaparan mengenai sorgum.

Pemaparan mencakup sejarah dan perkembangan sorgum, berbagai varietas, kandungan gizi, manfaat, potensi hasil panen, serta pengalaman budidaya dan pengembangan sorgum di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Cirebon. Fasilitator juga menjelaskan kaitan budidaya sorgum dengan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan ekonomi
rumah tangga.

Pemaparan tersebut memberikan perspektif yang lebih luas mengenai sorgum. Peserta diajak melihat bahwa sorgum memiliki berbagai kemungkinan pemanfaatan, baik sebagai pangan maupun sebagai bagian dari usaha pertanian.

Pada saat yang sama, potensi tersebut perlu dilihat bersama dengan berbagai persoalan yang mungkin dihadapi petani, terutama penggilingan, pengolahan, kualitas pangan, dan pasar. Dengan demikian, peluang sorgum tidak hanya dilihat dari seberapa banyak yang dapat dipanen, tetapi juga dari seberapa jauh hasil panen dapat diolah dan memberikan nilai tambah bagi petani.

Menggali Pengalaman dan Persoalan Petani

Setelah pemaparan, Ahmad Mahmudi mengajak peserta berbagi pengalaman yang dimiliki
terkait sorgum. Diskusi dilakukan dalam empat kelompok yang dipimpin oleh para co-fasilitator.

Kelompok 1: Aspek Teknis Budidaya, Ratoon, dan Daya Dukung Lahan

Kelompok 2: Teknologi Pascapanen, Mutu Hasil, dan Infrastruktur Desa

Kelompok 3: Ekonomi Rumah Tangga, Struktur Pasar, dan Kemitraan

Kelompok 4: Sosial-Gender, Psikologis, Regenerasi, dan Komitmen Pangan

Dari diskusi terungkap bahwa pengalaman budidaya sorgum di kalangan petani masih sangat terbatas. Ada yang pernah mencoba menanam, tetapi belum berkembang menjadi kegiatan budidaya yang berkelanjutan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan sorgum tidak berhenti pada budidaya. Setelah panen, petani menghadapi persoalan yang lebih besar.

Hasil sorgum sulit diolah karena tidak ada pihak atau tempat yang menerima penggilingan sorgum. Ketika diolah secara sederhana, sorgum juga dirasakan kurang enak dimakan karena teksturnya kasar. Di sisi lain, hasil yang diperoleh juga belum memiliki pasar yang jelas sehingga sulit dijual.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberlanjutan budidaya bukan semata-mata persoalan kemampuan
petani menanam, tetapi juga berkaitan dengan belum tersedianya rantai pendukung setelah panen.

Temuan tersebut menjadi bahan untuk melihat sorgum secara lebih luas: bukan hanya sebagai
tanaman, tetapi sebagai rantai usaha dari lahan, panen, penggilingan, pengolahan, produk, sampai pasar.

Diskusi Lanjutan: Membaca Peluang

Setelah pemaparan dan penggalian pengalaman, peserta kembali berdiskusi untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan informasi yang telah diperoleh.

Pembahasan diarahkan pada beberapa pertanyaan utama:

  • Varietas apa yang memungkinkan dikembangkan di tingkat petani?
  • Bagaimana teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal?
  • Bagaimana mengatasi persoalan penggilingan?
  • Teknologi pascapanen apa yang dibutuhkan?
  • Bagaimana menghasilkan produk sorgum yang lebih enak dan mudah diterima konsumen?
  • Apakah secara ekonomi sorgum memungkinkan menjadi usaha rumah tangga atau usaha bersama?

Dengan demikian, pembicaraan tidak berhenti pada pertanyaan “bagaimana menanam sorgum?”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang lebih luas:

“Bagaimana membangun rantai sorgum sehingga petani memiliki alasan ekonomi untuk
menanamnya?”

Harapan dan Kesepakatan

Musyawarah menghasilkan pemahaman bersama bahwa pengembangan sorgum perlu dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pengalaman nyata.

Arah yang disepakati antara lain:

  1. Melakukan percobaan budidaya secara terbatas
    untuk memperoleh pengalaman lokal.
  2. Mencari dan mencoba solusi penggilingan serta
    pengolahan sorgum agar hasil panen dapat dimanfaatkan dengan lebih baik.
  3. Menghitung biaya budidaya, pengolahan, harga jual, dan potensi keuntungan.
  4. Membangun kerja sama antara petani, pengolah, dan pihak yang memiliki akses pasar.
  5. Menjadikan seluruh proses sebagai pembelajaran bersama: mencoba, mencatat, mengevaluasi, memperbaiki, dan mengembangkan.

Penutup

Musyawarah menunjukkan bahwa pengembangan sorgum masih berada pada tahap awal. Pengalaman
petani justru memperlihatkan persoalan penting: sorgum tidak akan berkembang hanya dengan mendorong petani menanam apabila persoalan penggilingan, pengolahan, dan pasar belum terjawab.

Karena itu, langkah selanjutnya adalah mencoba membangun rantai sorgum secara bertahap, mulai dari budidaya, pengolahan, produk, pasar, hingga perhitungan ekonomi, dengan menjadikan pengalaman petani sebagai dasar untuk belajar dan mengambil keputusan bersama.

Saung Wangsakerta, 24 September 2026



Bagikan

Kontak

Informasi lebih lanjut

yayasan.wangsakerta@gmail.com

Jl. Jeunjing RT 06/RW 01 Dusun Karangdawa, Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon 45145

Formulir Kontak

Yayasan Wangsakerta
Yayasan Wangsakerta

Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

Profil

Siapa Kami

Ngenger - Sekolah Alam

© 2022 - 2026 Yayasan Wangsakerta. All rights reserved. Design by Studiofru