Dari Pengalaman Diri ke Inovasi: Pentingnya Produk Perawatan Sehari-Hari yang Aman dan Tak Menyakiti Siapapun
“Sistem pasar bebas kerap meloloskan bahan kimia murah yang ternyata bisa berdampak membahayakan untuk kesehatan maupun lingkungan…”
Penggalan pernyataan itu membekas sebagai pelajaran di sekitar 2022, pada saat Ngenger di Wangsakerta. Pun tentang pembelajaran pertanian, juga pengenalan seputar tumbuhan kaya manfaat dari tanaman herbal, masih terekam jelas. Kini, terhitung satu bulan lebih berjalan, saya kembali belajar mendalami sembari membuat produk inovasi baru dari tanaman herbal dalam bentuk produk perawatan diri dan perawatan rumah tangga.
Ide itu sesungguhnya tak datang dari ruang hampa. Saya punya ketertarikan kuat untuk belajar inovasi melalui karya. Saya juga ingin terus melatih kepekaan diri mengenali tumbuhan di lingkungan sekitar.
Dimulai dari pengalaman sendiri, pada saat masih di bangku sekolah menengah pertama. Sewaktu itu, hal tampak sepele yakni saat mencuci baju sendiri menggunakan deterjen bubuk—mengubah hidup saya. Saat mencelupkan tangan ke dalam air bercampur busa, ternyata ada reaksi kulit saya terasa panas, lalu nampak secara visual memerah dan kering-kerontang. Rasa sakitnya bukan hanya fisik; tetapi ada rasa takut saat harus menjelaskan luka kecil itu saat banyak orang bertanya, dan takut saat melihatnya menyebar, karena obat yang diberikan ternyata tak instan mengobati, luka itu harus saya rawat dengan tenang dan telaten mengobatinya.
Diagnosanya adalah dermatitis kontak iritan.
Dalam perkembangan berikutnya, jenis penyakit tersebut akhir-akhir ini ternyata semakin merebak, kata dokter yang menangani saya. Tren peningkatan kasus dermatitis (peradangan kulit) memang terus melonjak secara global dan nasional. Di Indonesia, dermatitis secara konsisten menempati posisi puncak sebagai penyakit kulit terbanyak, sebagaimana laporan Profil Kesehatan Indonesia 2024, yang dirilis Kemenkes. Dari kenyataan serupa, penelitian yang dilakukan Effendi, dkk pada 2019, di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah di wilayah Lampung menunjukkan informasi bahwa perempuan lebih rentan terkena dermatitis dibandingkan laki-laki, dengan rasio penderita perempuan mencapai 57% - 58% dari total kasus, berbanding 42% - 43% pada laki-laki.
Penelitian Masruri & Safitri (2024) mengingatkan betapa perempuan memiliki peluang 1,3 kali lebih besar terkena dermatitis, terutama untuk jenis dermatitis kontak dan dermatitis atopik. Kendati jenis kelamin bukan satu-satunya faktor risiko utama, sebab juga dipengaruhi faktor usia dan paparan lingkungan, sebagaimana yang diungkap hasil penelitian tersebut. Persoalannya, sebagai konsumen, kita seringkali minim mendapat informasi memadai dan lengkap atau juga kita sering mengabaikannya, bahwa produk sehari-hari yang kita gunakan seperti deterjen, pewangi, dan bahan pembersih (terutama untuk keperluan rumah tangga) berisiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Seperti yang saya alami, tiap terkena paparan zat tertentu yang ternyata tidak cocok membuat kulit saya merasa terbakar dan tiba-tiba muncul kemerahan dan kering kerontang.
Dari pengalaman pribadi itulah, sambil merefleksi proses belajar di Wangsakarta menyadarkan serta membawa pemahaman baru: sepertinya saya dijauhkan dari apa yang sebenarnya dekat dengan saya, karena obat dan bahan sudah ada di sekitar saya sendiri. Sejumlah produk skin care dan perawatan rumah tangga yang tak ramah bagi jenis kulit tertentu, yang notabene berasal dari bahan kimia memiliki kandungan yang berpotensi membahayakan kulit. Bahkan menjadi limbah lingkungan baru dan mencemarinya dari hasil bekas zat kimia yang menumpuk menjadi satu.
Misalnya saja kandungan Zat Surfaktan meliputi Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Paraben (Variasi Pengawet) yang terdapat di produk skincare maupun perawatan.
Artikel Fang We, et all (2021) yang berjudul Parabens as Chemicals of Emerging Concern in the Environment and Human: A Review membabarkan sejumlah penelitian dalam dua dekade terakhir –yang menunjukkan beberapa bahan yang umum digunakan dalam produk perawatan, seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan kelompok pengawet paraben, perlu mendapat perhatian. SLS telah lama diketahui dapat memicu iritasi kulit dan dermatitis kontak pada orang yang sensitif.
Berbagai artikel tinjauan ilmiah menyebutkan bahwa beberapa jenis paraben memiliki aktivitas yang menyerupai hormon (endocrine-disrupting chemicals), meski hingga kini bukti mengenai dampaknya terhadap kanker pada manusia masih terus diteliti dan belum bersifat konklusi. Selain itu, pada lingkungan, kandungan ini menjadi salah pemicu terjadinya kerusakan ekosistem sekitar dari pencemaran air dan tanah dari limbah produknya hingga terjadinya pencemaran di laut.
Itu baru sebagian kenyataan dari bahan berbahaya yang sering dipakai dalam produk perawatan.
Dalam konteks lebih luas, sistem pasar bebas kerap meloloskan bahan kimia murah yang ternyata bisa berdampak membahayakan untuk kesehatan maupun lingkungan. Konsumen pun jarang mendapatkan informasi yang cukup tentang pilihan yang benar-benar aman. Iklan yang rapi seringkali menutupi fakta bahwa produk populer ternyata belum tentu aman; beberapa produk bahkan ada yang mengandung mikroplastik yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang dan mencemari ekosistem laut.
Maksud dari pasar bebas, meminjam istilah Adam Smith tentang "invisible hand", yaitu kebebasan individu dalam kegiatan ekonomi—memungkinkan arus barang kimia masuk relatif mudah karena perdagangan internasional dan orientasi kuantitas produksi. Nahasnya, Indonesia adalah produsen sumber bahan baku natural surfaktan, tetapi kapasitas pengolahan untuk menghasilkan grade kimia industri (kosmetik, farmasi, sabun) belum memadai. Akibatnya, sebagian besar SLS masih diimpor dari negara seperti China, Jepang, dan Eropa. Data PERKOSMI (Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia) menunjukkan 60–80% kebutuhan bahan baku kosmetik nasional bergantung pada impor, dengan beberapa sumber memperkirakan hingga 85% untuk bahan seperti paraben dan SLS.
Sistem kerja pasar bebas dan neoliberalisme mendorong ekspansi perdagangan yang menekankan kuantitas, sehingga banyaknya pemenuhan kebutuhan yang telah menggeser perhatian dari kualitas yang lebih aman dan berkelanjutan.
Melalui perjalanan belajar dan berkarya ini, saya bercita-cita mengembangkan produk perawatan mandiri yang mengutamakan kualitas dan baik untuk kesehatan jenis kulit tertentu dan sekaligus tak mencemari lingkungan. Dimulai sekitar Mei 2026, selama sekitar satu bulan berjalan di saung saya sudah mencoba mengimplementasikan ide saya membuat produk pertama kali. Tentu saja di dalam proses trial and error, sampai perjalanan saya ketemu formulasi yang pas dan aman.
Dari membuat Lip balm dengan campuran rosella dan bunga marigold, face mist dari campuran eco enzyme, spray anti nyamuk dari campuran serai dan kulit jeruk, lotion campuran serai dan minyak zaitun, sabun cuci piring dan gentle body wash dengan campuran ekstraksi bunga. Sekitar tujuh produk yang dibuat tersebut membuat semakin yakin untuk terus belajar dan memperdalamnya. Menikmati setiap fase mencari takaran dan mengenal jenis-jenis kandungan tanaman dan mengenal kembali nama bahan ilmiah yang menjadi kesenangan baru. Impiannya bahkan bukan sekadar membuat produk, tetapi juga menghadirkan alternatif yang bisa digunakan tanpa rasa takut; produk yang memberi rasa aman.
Saya ingin perempuan lain tidak perlu melewati rasa takut atau sakit karena sekadar melakukan tugas rumah tangga. Saya ingin anak-anak kita nantinya tumbuh dalam lingkungan yang tidak penuh zat-zat kimia berbahaya. Tentu, jalannya tidak mudah. Karena, Industri dan pasar lebih tertarik pada volume dan harga murah, dan kadang informasi yang kita butuhkan disembunyikan di balik kata-kata ajaib pemasaran.
Kerap kali saya menatap bekas luka di tangan saya, ternyata inilah salah satu yang menjadikan saya bersemangat ingin banyak belajar, dalam menulis ulang cerita: dari konsumen pasif menjadi pembuat pilihan sadar; dari luka menjadi solusi; dari ketakutan menjadi aksi. Serta tak lupa atas refleksi lingkungan dan tumbuhan sekitar kita yang sebenarnya sangat berpotensi penyembuh bagi kita, namun jarang ada
melihatnya sebagai obat ketika kita terluka.
Pelan-pelan saya ingin melengkapi pekerjaan rumah berikutnya yang akan mencoba memetakan tanaman lokal yang ramah kulit, mendokumentasikan khasiat tradisionalnya, melakukan uji sederhana produk lainnya dan tak lupa memastikan keamanannya, lalu merancang produk yang berasal dari lingkungan sekitar yang lebih beragam dan formulasinya mudah dipahami.
Saya ingin produk itu memegang nilai yang sederhana: tidak menyakiti jenis kulit apapun dan siapapun. []