Dari Limbah Menjadi Pakan: Perjalanan Belajar Mengembangkan Pakan Ternak Tambahan
Awal April 2026, saya kembali beraktivitas di Saung Wangsakerta—setelah sebelumnya menjadi warga belajar Ngenger Angkatan ke-2—dengan fokus pada produksi pakan kering untuk hewan ternak. Awalnya saya heran dan bingung. Kenapa? Karena saya mengira tinggal memproduksi saja seperti bekerja di pabrik pada umumnya. Kita menjadi karyawan dan ada kepala produksinya.
Namun ternyata tidak, di sini memulai usaha itu sendiri.
Saya mendapat dua fokus peruntukan pakan kering, yaitu untuk kambing atau domba dan unggas. Pakan kering untuk domba atau kambing terdapat dua jenis metode. Pertama yaitu hay. Pakan kering metode hay adalah pakan hijauan yang dikeringkan hingga kadar airnya rendah (sekitar 10–20%), sehingga dapat disimpan lama tanpa mengalami fermentasi. Kedua yaitu metode pakan konsentrat, yaitu pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi (energi, protein, atau keduanya) dan serat kasar yang rendah dibanding hijauan. Pakan ini juga biasanya dibuat dalam bentuk tepung.
Kemudian setelah mengetahui itu, saya mencoba langsung memproduksi keduanya dengan bahan yang ada di sekitar, mudah didapat, dan gratis, tinggal ambil. Waktu itu saya mengarit dan mengambil rumput atau daun hijauan seperti indigofera, odot, lamtoro, dan gamal. Lalu dikeringkan menggunakan ruang pengering dome yang ada di Saung Wangsakerta selama 2–3 hari. Setelah kadar airnya diperkirakan menyusut sampai 10–20%, dengan ciri daun yang agak kecokelatan namun belum remah secara tekstur, dapat dipastikan itu sudah menjadi pakan kering.
Langsung saja saya berikan kepada kambing yang ada di saung sebagai percobaan. Dan berhasil karena kambing langsung memakannya hingga habis.
Pada minggu kedua, dengan saran dari Bu Ida agar mengambil limbah buah nanas di tukang jual buah nanas, peruntukannya sama yaitu untuk pakan kering. Alasannya, limbahnya gratis tinggal ambil dan belum terkelola. Langsung saja saya mengambil limbah tersebut yang lokasinya tidak jauh dari wilayah sekitar Saung Wangsakerta. Saya mendapatkan dua karung dari dua tempat penjualan buah nanas.
Sebelumnya memang limbah kulit nanas ini sudah dimanfaatkan untuk pakan kambing oleh alumni belajar di Saung Wangsakerta. Saya sudah lebih dulu meyakini bahwa limbah nanas bisa menjadi pakan kambing. Setelah membawa dua karung itu ke saung dan memilahnya, saya menyadari bahwa sebelumnya saya hanya mengetahui yang dapat dimakan kambing itu kulit nanasnya saja, sementara limbah yang didapat juga bercampur dengan daun nanas.
Jadi kami (saya, Bu Ida, dan Riyanti yang membantu memilah limbah kulit nanas) memilah limbah tersebut dari sore hingga hampir larut malam sekitar pukul delapan, karena belum mendapatkan metode memilah yang cepat. Setelah dipilah, kemudian dikeringkan di ruang dome pengering. Lalu saya berikan kepada kambing setelah dua hari dikeringkan. Dan kambing mau memakannya hingga habis, ternyata cukup lahap juga. Setelah merasa berhasil dengan pakan kering kulit nanas, saya lebih sering mengambil limbah kulit nanas.
Setelah beberapa hari, dirasa bahwa proses pemilahan limbah kurang efisien. Saya dibantu Bu Ida memikirkan caranya. Kemudian akhirnya ditemukan cara yang lebih efisien, yaitu dengan merendam limbah tersebut di dalam bak air atau wadah besar sehingga kulit nanas tenggelam dan daunnya mengapung. Jadi lebih mudah memilahnya, dibanding sebelumnya yang dilakukan secara manual.
Dengan rutinitas produksi pakan kering tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk membentuk tim karena membutuhkan tenaga tambahan agar dapat memproduksi lebih banyak. Ketemulah Ipan, yaitu anak muda dari Dusun Karang Dawa yang memang sering berlalu-lalang ke saung dan ikut kegiatan di Saung Wangsakerta. Setelah mengenalnya, tidak lama kemudian saya mengajaknya dan juga mengajak Zydan. Mereka pun dengan semangat mengatakan, “Ayo, gas aja, sue!” (jangan lama-lama). Saut Irpan menggunakan bahasa sehari-harinya.
Mendengar itu, langsung terbesit sebuah mimpi besar yaitu memiliki produktivitas bisnis pakan kering yang besar. Setiap dua hari sekali kami mengambil limbah kulit nanas dan mengolahnya. Lalu Zydan menularkan pengetahuannya tentang adanya limbah kulit pisang yang belum terkelola dan juga bisa digunakan untuk pakan kambing. Kami pun langsung mengambil limbah tersebut kemudian mengolahnya. Untuk limbah kulit pisang sendiri, karena volumenya cukup besar, saya berinisiatif mencacahnya menggunakan mesin cacah agar lebih mudah dikeringkan.
Dengan itu kami memproduksi pakan kering secara konsisten dan kambing di peternakan Wangsakerta memiliki pakan tambahan. Selanjutnya, saya mulai mengembangkan pakan kering, khususnya kulit nanas, untuk menjadi pakan unggas juga. Di Saung Wangsakerta kami memiliki alat giling tepung atau penepung. Alat ini saya gunakan untuk menepungkan kulit nanas dan daunnya. Mulai dari situ kami tidak memilah lagi limbah kulit nanas dengan daun nanasnya. Hal ini cukup memudahkan kami dalam memproduksi pakan kering.
Sehingga saya menuliskan alur sederhananya dalam memproduksi pakan kering:
- Ambil limbah.
- Cuci limbah atau pilah jika ada sampah plastik yang masuk.
- Keringkan di dome pengering.
- Giling menjadi tepung.
- Packing.
Dengan alur ini, saya menjadwalkan produksi pakan kering agar tim kami lebih teratur dalam memproduksinya. Karena terkadang teman saya, Irpan, lupa kalau kami akan mengambil limbah kulit nanas. Setelah itu, saya mempelajari kandungan dan takaran (komposisi) pakan kering. Hal ini dipertanyakan oleh ang Fatimah, dan ternyata bahan-bahan tersebut banyak mengandung sumber protein.
Dengan resep komposisi dan kandungan yang sudah berjalan dalam produksi, saya gunakan untuk percobaan pada ternak yang ada di Saung Wangsakerta terlebih dahulu. Resep ini berhasil karena diadopsi dan disesuaikan standarnya dengan pakan pabrikan, namun basisnya tetap tidak lepas dari limbah dan tanaman yang mudah didapat atau tersedia di sekitar kita.
Setelah akhir bulan, Saung Wangsakerta mengadakan rapat bulanan. Pada gilirannya, saya memaparkan hasil produktivitas dan mendapatkan apresiasi. Namun setelah diketahui bahwa beberapa bahan untuk pakan ternak unggas dan pakan konsentrat kambing memerlukan biaya modal yang lumayan besar, seperti jagung giling yang padahal merupakan bahan utama, muncul pertimbangan baru.
Akhirnya hasil rapat menyetujui bahwa produksi pakan ternak ini ditahan atau tidak diproduksi terlebih dahulu. Sebenarnya saya merasa kecewa pada saat itu sebagai pelaku produksi yang telah memperoleh pengetahuan dan memiliki mimpi untuk mengembangkan bisnis tersebut. Hingga saya mengalami patah semangat beberapa hari. Namun setelah merenung dan mempertanyakan alasannya, hal ini perlahan membangkitkan semangat kembali. Dan akhirnya saya pindah fokus produksi untuk membudidayakan sorgum. Ini juga tidak lepas dari produksi pakan kering ke depannya.
Dengan pengalaman mempelajari pakan kering dan memproduksinya dari bahan yang mudah didapat di sekitar, saya jadi memahami terkait pakan kering dan bank pakan ternak. Kambing di kandang membutuhkan pakan setiap hari, yang artinya para peternak harus mengarit atau mencari rumput setiap hari. Bisa dibilang dalam satu hari penuh kita mencari atau mengarit rumput yang banyak untuk memenuhi ketersediaan pakan, yang terkadang untuk pemberian satu hari saja sudah habis, atau ketika berlebih untuk besok sudah tidak layak diberikan karena kandungan gizinya menurun atau mulai busuk.
Setelah mengetahui cara membuat pakan kering ini, kita dapat membuat stok pakan sehingga ketersediaannya lebih aman untuk beberapa waktu ke depan, tergantung seberapa banyak stok yang dimiliki. Pelaku ternak menjadi memiliki lebih banyak waktu dan beberapa limbah pun dapat termanfaatkan. Nilai tambahnya adalah membantu mengurangi sampah.
Ini bagi saya sesuatu yang menarik, karena saya memang memiliki keinginan untuk beternak. Mempunyai pengalaman tentang memproduksi pakan kering menjadi ilmu dan keterampilan baru untuk nantinya menjadi peternak yang mumpuni dan ahli.
Memang ada beberapa kesulitan dalam memproduksi pakan kering, seperti alat angkut yang kurang memadai atau belum tersedia. Mungkin juga sulitnya mengetahui kandungan yang ada di dalam bahan pakan agar tidak membuat kambing sakit. Namun kesulitan ini bisa ditangani ketika kita banyak mencari informasi terkait hal tersebut.
Ke depannya saya juga masih fokus mengembangkan pakan kering ini. Dan itu juga alasan mengapa saya diberi tanggung jawab untuk membudidayakan sorgum, yang nantinya akan menjadi pakan kering juga dari batang dan daunnya. Saya juga sudah memikirkan dan merancang alat press bal untuk pakan kering serta tempat penyimpanannya. Ketika nanti pakan kering ini surplus, saya akan menyimpannya dalam bentuk bal di tempat yang sudah dirancang juga. Tentang membangun tim, itu juga menjadi hal yang mungkin nanti akan saya pelajari lebih lanjut.[]