Dari -Bli Kiyeng- Menjadi Berbagi Pengetahuan
“Apa yang membuat ibu-ibu mau belajar menanam?” tanya saya. Dalam pertemuan bersama KADARKIM Ibu Tin Berseri di Desa Tinumpuk, Indramayu di lahan belajar mereka.
Seorang ibu menjawab, “Saya sih memang dari dulu ingin punya bahan makanan sendiri. Lebih sehat, dan bisa mengurangi pengeluaran rumah tangga.”
Ibu yang lain menimpali, “Tapi orang sini tuh, Bu, katanya nanam itu ruwet. Harus bikin ini, bikin itu. Tinggal beli kan murah, nggak ribet dan nggak capek.”
Kemudian seorang ibu bercerita tentang pengalamannya ketika bekerja di luar negeri.
“Nah, itulah. Padahal waktu kerja di luar negeri, kita sering lihat, bahkan disuruh ngurus tanaman di kebun kecil punya majikan. Itu lho, Koko di tempat saya kerja, air seninya saja dibuat pupuk.” Ia kemudian tertawa kecil.
“Kita tuh seperti merasa malas ngapa-ngapain. Pinginnya nggak ribet. Ya gimana, Bu? Waktu kerja di luar negeri kadang lebih dari 12 jam sehari. Ngurus rumah tiga lantai sendirian. Harus benar-benar bersih. Tangga saja dilap, sama majikan dicek pakai tisu. Kalau masih ada debu, disuruh ulang.” Ia berhenti sebentar, lalu berkata, “Jadi kalau sekarang disuruh bikin pupuk, apalagi dari sampah, rasanya... bli kiyeng.” Bli kiyeng (bahasa Indramayu: malas). Capek duluan hanya dengan membayangkannya.
Cerita itu membuat saya berpikir bahwa persoalannya bukan semata-mata karena ibu-ibu tidak tahu bahwa menanam itu baik. Mereka tahu.
Mereka bahkan pernah melihat dan mempraktikkannya ketika bekerja di luar negeri. Mereka tahu bahwa orang bisa menanam bahan makanan sendiri, memanfaatkan sisa rumah tangga, bahkan mengolah air seni menjadi pupuk. Tetapi pengalaman hidup membuat sesuatu yang sebenarnya mereka tahu terasa jauh dari kehidupan mereka sendiri.
Bekerja lebih dari 12 jam. Mengurus rumah besar. Menjaga kebersihan tanpa boleh ada sedikit pun yang terlewat. Maka ketika kembali ke rumah sendiri di negeri asal, keinginan yang muncul justru: jangan tambah ribet, "ingin rebahan saja", begitu katanya.
Di sinilah proses belajar bersama Keluarga Sadar Iklim (KADARKIM) Ibu Tin Berseri menjadi penting. Ibu-ibu tidak hanya diberi tahu bahwa menanam itu baik. Mereka mencoba bersama. Mereka belajar dari pekarangan sendiri, mengolah bahan yang ada, membuat pupuk, mengelola sampah, menanam pangan, lalu melihat sendiri apa yang terjadi. Belajar menjadi pengalaman, bukan sekadar pengetahuan.
Lalu saya bertanya lagi, “Sekarang ibu-ibu merasakan manfaatnya atau tidak?”
“Ya, kalau pakai organik rasanya beda, Bu,” jawab seorang ibu. Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa sesuatu mulai berubah.
Mereka mulai merasakan hasilnya sendiri. Ada bahan pangan yang bisa dipetik dari rumah. Ada yang bisa mengurangi belanja. Ada pengalaman baru tentang tanah, tanaman, sampah, dan pangan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu diperhatikan.
Tetapi perubahan yang menarik bukan hanya apa yang terjadi di pekarangan mereka. Seorang ibu bercerita bahwa dalam sebuah pertemuan PKK, pembicaraan kemudian sampai pada persoalan pengelolaan sampah.
Ia ikut berbicara. Ia membagikan apa yang diketahuinya dari proses belajar bersama di KADARKIM Ibu Tin Berseri. Ia tidak datang sebagai ahli. Ia hanya menceritakan apa yang sudah dipelajari, dicoba, dan dirasakan sendiri. Tentang memilah sampah. Tentang memanfaatkan sampah organik. Tentang mengolah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.
Di situlah kita melihat bahwa belajar tidak berhenti ketika pertemuan kelompok selesai. Pengetahuan bergerak.Dari kelompok ke rumah. Dari rumah ke PKK. Dari satu ibu ke ibu yang lain.
Pembelajaran KADARKIM Ibu Tin Berseri: bukan membuat ibu-ibu menjadi “murid” yang harus terus diajari, tetapi membuka ruang agar pengalaman mereka sendiri menjadi pengetahuan—dicoba, dibicarakan, diperbaiki, lalu dibagikan.
Ibu-ibu yang awalnya merasa membuat pupuk dari sampah itu bli kiyeng, perlahan mulai memiliki sesuatu yang bisa mereka ceritakan kepada orang lain. Mereka bukan hanya belajar cara menanam. Mereka mulai memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman sendiri.
Dari “nggak mau ribet” menjadi “saya bisa”. Dari belajar untuk diri sendiri menjadi berbagi dengan yang lain. Dari satu pekarangan, pengetahuan mulai bergerak ke masyarakat.
Desa Tinumpuk Indramayu, 29 September 2026