Biochar: Kegagalan Eksperimen Pertama, Demi Pemulihan Alam
Saat ini, pada bulan April 2025, saya mendapat tugas atau tanggung jawab baru dari Wangsakerta yakni mengembangkan biochar. Apa itu biochar dan apa hubungannya dengan pembelajaran yang dikembangkan di wangsakerta?
Kata Biochar teramat asing bagi saya, entah itu bentuk, fungsi ataupun asal-usulnya—hal pertama yang saya bayangkan mengenai biochar adalah sesuatu seperti mikroba atau mikroorganisme seperti maggot atau sejenis pupuk organik cair yang biasa kami buat, gambaran ini mungkin karena biochar berawalan kata ‘bio’, ternyata apa yang saya bayangkan ini salah besar.
Setelah mengumpulkan berbagai referensi melalui internet baik itu jurnal,artikel,buku, diskusi grup facebook, video dan lainnya yang berkaitan dengan biochar, walaupun dalam masa pengumpulan referensi saya mengalami kendala terkait bahasa, sebab semua referensi yang saya temukan kebanyakan berbahasa asing (inggris terutama). Namun hal ini terpecahkan akhirnya ku temukan dalam bahasa Indonesia biochar ini biasa disebut dengan arang hayati atau arang aktif.
Kesimpulannya, biochar adalah arang tetapi bukan arang, kenapa begitu? karena secara bentuk dan warna memang menyerupai arang, hanya yang membedakannya adalah metode pembuatan dan bahan baku yang digunakan. Jika arang biasa menggunakan metode karbonisasi biasa dengan penguraian menggunakan banyak oksigen dan bahan utama yang digunakan adalah kayu atau batok kelapa, sedangkan biochar ini menggunakan metode pirolisis dengan minim oksigen dan bahan utama yang digunakan adalah biomassa.
Selain bentuk dan metode, fungsi arang dan biochar pun berbeda.
Arang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak—biochar digunakan untuk pembenah tanah dan sebagai rumah mikroba, menurut Zhe Han Weng, seorang peneliti di School of Agriculture, Food, and Wine, The University of Adelaide Australia, terdapat tiga alasan mengapa biochar dapat menurunkan emisi.
Pertama, kestabilan biochar dalam tanah. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karbon yang terkandung di dalamnya dapat bertahan selama lebih dari seratus tahun. Kedua, biochar mampu menurunkan emisi metana dan dinitrogen oksida yang berasal dari tanah dan proses pengomposan. Terakhir, gas sisa dari proses pirolisis pembuatan biochar bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Jika melalui berbagai penjelasan tentang biochar terkait manfaat dan fungsinya, biochar ini bisa menjadi solusi bagi masalah yang sedang kami hadapi selama ini yaitu sulitnya mengelola lahan di saung dengan jenis tanah yang kalau hujan air tidak mudah terserap kalau panas tanah mudah retak
dan keras.
Dalam pembuatan biochar ada tiga metode yaitu soil pit, kontiki, dan drum. Metode drum juga terdiri dari 3 metode utama, yaitu TLUD, retort, dan kon-tiki, untuk penjelasan terkait metode tersebut bisa dibaca melalui link ini https://journal.asritani.or.id/index.php/Hidroponikatau bisa mengunjungi website mongabay, wastex, dan environesia—dari banyaknya metode pembuatan biochar saya memilih metode drum TLUD, saya memilih teknik ini karena. Pertama, struktur alat yang mudah dalam artian gampang dirancang dan murah, alat ini hanya mempunyai tiga komponen yaitu tabung reaktor, cerobong dan tutup.
Kedua, prinsip kerja yang mudah diamati, prinsip kerja dari teknik ini sendiri yaitu saat starter dinyalakan api akan merambat turun ke zona pirolisis panas yang dihasilkan ini akan mengubah biomassa padat menjadi gas(asap), gas ini akan naik keatas dan terbakar habis ketika bertemu dengan api yang ada diatas, ciri proses pembakarannya yaitu, jika asap yang keluar dari cerobong masih berwarna putih pekat berarti api masih ada di bagian atas, jika asap berwarna kebiruan api sudah turun ketengah, dan jika asap mulai sedikit api sudah mencapai bawah. Ketiga, efisiensi waktu, untuk kapasitas drum 200 liter hanya memakan waktu 3-5 jam, jauh lebih cepat ketimbang metode Kon-tiki.
***
Rabu, 08 April 2026, pagi hari saya mulai mengumpulkan berbagai macam biomassa yang ada di saung seperti limbah kelapa muda, sekam, kayu, ranting dan serbuk kayu. Percobaan pertama ini saya membuat 3 lapisan. Lapisan pertama (paling bawah) yaitu kayu yang dipotong dengan ukuran 3-5cm, lapisan kedua kelapa muda dan lapisan ketiga sekam, untuk starternya sendiri saya menggunakan ranting dan jerami serta kertas bekas. Proses pembakaran dilakukan pada sore hari tepatnya pukul 16.00 wib. Asap kebiruan mulai muncul pukul 18.00 yang ini berarti api sudah mencapai tengah. Sambil menunggu saya juga mempersiapkan wadah dan air.
Air ini saya gunakan untuk metode pendinginan /quenching yaitu metode menyiram air pada proses pembuatan biochar. Pada pukul 21.00 asap mulai sedikit dan menghilang. Ini berarti api sudah mencapai bawah, setelah itu saya siram dan tutup dengan kain basah agar biochar tidak menjadi abu. Setelah itu biochar di-angin-anginkan, namun ternyata eh ternyata hasil yang didapat kurang maksimal karena ada beberapa kayu dan kelapa muda yang belum menjadi biochar atau terbakar sempurna.
Melihat hasil tersebut kepala saya langsung diserang berbagai pertanyaan seperti. Apakah susunannya salah? Apakah waktu pembakaran kurang lama? Apakah metode pendinginannya salah? Apakah persentase kadar air dalam bahan masih terlalu tinggi? Apakah karena drumnya yang sudah banyak lubang dan berkarat? Apakah cerobongnya kurang besar atau justru dari semua aspek saya yang salah karena terlalu terburu-buru praktek tanpa membaca dan memahami lebih banyak literatur.
Rasa lemas bercampur lelah dan pusing menjadi satu. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan “ya udah namanya juga experimen pertama gak mungkin langsung berhasil, ilmuwan besar pun mungkin sering menemui kegagalan apalagi saya”.
Cirebon, 27 April 2026